Kamis, 04 Februari 2016

Surat Pernyataan yang Seharusnya Ditulis Sejak Surat Cinta Hari Pertama

Dear W-,

Hari ini sudah tanggal 4 Februari 2016 dan kau masih merayakan hal-hal yang terjadi sejak empat tahun lalu. Seperti di suratku beberapa hari lalu, aku ingin menegaskan kembali bahwa lepaskanlah kupu-kupu yang ingin beterbangan dalam perutmu itu. Tolonglah. Beberapa saja. Suratku yang kelima ini pun masih menuntut hal-hal yang sama dengan empat surat sebelumnya. Kita sama-sama sakit, W-. Bahkan kekosongan mampu membuat kita sakit. Tapi tunggu dulu, mari kita kaji apa kekosongan itu. Menurutku, kekosongan adalah ketiadaan sesuatu atau kehampaan. Benarkah kekosongan ada di dunia ini? Jika kita mempertanyakan wujudnya berarti dia mengisi suatu dimensi ruang di dunia? Karena saya semakin pusing, mari kita menyerahkan jawabannya pada pakar filsafat yang katanya paling bijak namun kadang tidak ada yang betul-betul terbantu oleh jawaban mereka. Saya skeptis dan plegmatis, baiklah!
Intinya, kau mengerti kan "kosong" maksud saya?
Kekosongan membuatmu sulit menentukan jalan hidup. Padahal, kau adalah seorang perempuan yang cukup visioner dan praktis. Dan lagi-lagi aku menyebutmu skeptis, kau hanya tak ingin semua orang tahu hal itu. 
Hal-hal itu membuatmu tak peduli lagi materi yang melekat di jiwamu. Kau biarkan otak-otak liar menjarah citra tubuhmu yang dulu selalu ingin kau jaga. Aku menyumpahi hal-hal yang kau jaga itu. Sudahlah, kita hidup dalam masa bebas persepsi, se-alim apapun seseorang tidak akan lepas dari para haters. Setiap orang di dunia ini setidaknya punya luka yang sama.

Andai saja, setiap waktu aku bisa memelukmu. Kita sama-sama tahu kau senang dipeluk. Setiap lukamu mudah sembuh oleh 30 puluh detik pelukan. Kau bahkan hampir tak pernah butuh air mata yang katanya penawar racun paling ampuh sedunia. Bahkan di tujuh dunia sekalipun. 
Aku merindukan ketenangan-ketenangan dalam hidup kita berdua. Aku bebas bercengkrama denganmu tanpa beban moral. Mempertanyakan hal-hal lucu sampai paling kejam tanpa tahu jawabannya malah menjawabnya sendiri.
Waktuku sendiri hampir habis atau semoga saja masih lama. Ada masanya kau menemukan hal yang lebih menyenangkan dari menghabiskan waktu bercakap denganku. Kini kau jarang mengunjungiku lagi bahkan sekedar menengok media sosialku. Media sosial maksud saya disini bukan hanya dunia maya tapi dunia tempatku bergaul dan bersosialisasi.
Entah itu kebahagiaan atau kekhawatiran. Aku ingin menghabiskan bulan Februari ini menyuratimu segala keluh kesahku sebelum aku benar-benar hilang. Bersabarlah, masih banyak yang ingin kubicarakan denganmu. Tolong, jangan pernah takut dengan kata-kata ini. Aku bukan pacarmu yang hendak minta putus.

xoxo

Rabu, 03 Februari 2016

Surat Lama

Satu,
Dari sekian banyak kepadatan angka, keutuhan bertolak padamu.

Satu,
Cinta menyembahmu, sedang godaan memecahmu

Satu,
Cukup untukku

Sebab Tuhan hanya menciptakan satu rongga dalam dadaku.

*status lama di facebook*

Selasa, 02 Februari 2016

Surat dari Mimpi

Dear W-

Sudah berapa abad kau meringkuk di pundakmu?
Mencoba mengukur-ukur lembar keringatmu
Melupakan prolog hidup yang lahir dari keringat Ibu tatkala melahirkanmu
Ibumu tidak pernah memberi penggaris melainkan mengajarkan kelapangan gurat-gurat garis tangan yang kasar

Pundakmu, tempat beberapa kepala yang tak sadar bersandar
Tak tahu diri. Tapi kau tak peduli.
Keteduhan bagi yang papa oleh mimpi
Sampai kau menaruh beban di bibir
Kau bilang, tak ada yang betul-betul kau inginkan di dunia ini

Senin, 01 Februari 2016

Surat untuk Masa Lalu

Dear W-

Apa kabar? Ku harap baik-baik saja.
Ohiya, sekarang kau sibuk apa?
Dulu kau sering bercerita tentang mimpi-mimpi dan imajinasimu. Tentu saja imajinasi bodohmu yang menginginkan kembali ke masa lalu.
Kau selalu bilang, seandainya Tuhan memberi kesempatan untuk mewujudkan satu keinginanmu, kau hanya ingin kembali ke masa lalu dan menjadi anak kecil. Mengulang dan memperbaiki kesalahan-kesalahan hidupmu.
Keinginanmu sungguh tidak adil. Aku takut jika kau kembali dan merubah jalan hidupmu, aku tidak akan pernah hadir dalam hidupmu. Aku takut.
Tapi aku selalu berdoa agar keinginanmu tercapai.
Ah, dulu juga kau bilang kau mau sekolah. Sekarang kau sudah master, ya? Kalau iya, selamat! Kalau belum, ohmaigat! Semangat!
Aku ingat, dulu kau orang yang sangat pesimis dan selalu menyerah pada keadaan. Aku heran, orang yang suka baca buku fantasi itu tidak akan membentuk orang yang seperti itu.
Aku juga ingat, dulu kau selalu menyempatkan diri membaca buku dimanapun! Sebelum teman-temanmu sering mengeluhkan kesibukanmu membaca buku.
Kau juga orang yang sangat tertutup, W-! Mimpi-mimpimu hanya kau ceritakan padaku. Semoga kau tak bohong. Aku pikir, teman-temanmu yang merubah sifatmu itu. Kadang aku bersyukur, kadang aku cemburu. Kau sering melupakanku kalau teman-temanmu mengerubutimu.
Aku bingung, kau diam saja saat teman-temanmu mengambil barang seenaknya dalam tasmu atau berbagi handuk bahkan bantal. Aku tahu, kau benci diperlakukan seperti itu. Kau selalu melampiaskan kekesalanmu kalau kau tiba-tiba menghardik seseorang  yang berbuat seperti itu padamu. Iya, aku cemburu kau tidak pernah lagi protes  jikalau itu temanmu.
Aku lebih suka sifatmu yang penyendiri dan  plegmatis.

W-,
Apa kabar hatimu?
Masihkah sesetia bulan? Masihkah segemulai embun? Masihkah serapuh kedip lampu jalan?
Sudahlah!
Kau terlalu kejam pada debar jantungmu!
Kau terlalu kejam pada kupu-kupu yang masih saja terbalut dalam perutmu!
Selamat atas kemenangan syaraf-syaraf otakmu.
Kadang aku berharap tidak hidup didalamnya..

Surat Cinta yang Terlambat

Aku cinta kamu


Aku pikir, tidak pernah ada kata yang benar-benar cocok untuk menggambarkan perasaan seseorang kepada yang disayanginya.
Dalam bahasa apapun. Bahkan bahasa tubuh yang sering dikelabui nafsu.
Aku bukan ingin berdebat tentang semiotika atau memuja Derrida.
Tapi aku yakin cinta bahkan mengalahkan seorang feminis bertekuk lutut dihadapan lelaki. Maaf kalau mb Simone tersinggung dan plis mz Sartre gak usah besar kepala. Saya juga pasti jatuh dalam pelukanmu, mz (?)
Hanya saja, kadang kita lalai berucap cinta. Atau bahkan lihai bermain puisi.
Manusia selalu butuh kepastian. Dan butuh diyakinkan. Atau butuh kebohongan.

*bersambung