Minggu, 31 Januari 2016

Surat untuk Masa Lalu

Dear W-

Apa kabar? Ku harap baik-baik saja.
Ohiya, sekarang kau sibuk apa?
Dulu kau sering bercerita tentang mimpi-mimpi dan imajinasimu. Tentu saja imajinasi bodohmu yang menginginkan kembali ke masa lalu.
Kau selalu bilang, seandainya Tuhan memberi kesempatan untuk mewujudkan satu keinginanmu, kau hanya ingin kembali ke masa lalu dan menjadi anak kecil. Mengulang dan memperbaiki kesalahan-kesalahan hidupmu.
Keinginanmu sungguh tidak adil. Aku takut jika kau kembali dan merubah jalan hidupmu, aku tidak akan pernah hadir dalam hidupmu. Aku takut.
Tapi aku selalu berdoa agar keinginanmu tercapai.
Ah, dulu juga kau bilang kau mau sekolah. Sekarang kau sudah master, ya? Kalau iya, selamat! Kalau belum, ohmaigat! Semangat!
Aku ingat, dulu kau orang yang sangat pesimis dan selalu menyerah pada keadaan. Aku heran, orang yang suka baca buku fantasi itu tidak akan membentuk orang yang seperti itu.
Aku juga ingat, dulu kau selalu menyempatkan diri membaca buku dimanapun! Sebelum teman-temanmu sering mengeluhkan kesibukanmu membaca buku.
Kau juga orang yang sangat tertutup, W-! Mimpi-mimpimu hanya kau ceritakan padaku. Semoga kau tak bohong. Aku pikir, teman-temanmu yang merubah sifatmu itu. Kadang aku bersyukur, kadang aku cemburu. Kau sering melupakanku kalau teman-temanmu mengerubutimu.
Aku bingung, kau diam saja saat teman-temanmu mengambil barang seenaknya dalam tasmu atau berbagi handuk bahkan bantal. Aku tahu, kau benci diperlakukan seperti itu. Kau selalu melampiaskan kekesalanmu kalau kau tiba-tiba menghardik seseorang  yang berbuat seperti itu padamu. Iya, aku cemburu kau tidak pernah lagi protes  jikalau itu temanmu.
Aku lebih suka sifatmu yang penyendiri dan  plegmatis.

W-,
Apa kabar hatimu?
Masihkah sesetia bulan? Masihkah segemulai embun? Masihkah serapuh kedip lampu jalan?
Sudahlah!
Kau terlalu kejam pada debar jantungmu!
Kau terlalu kejam pada kupu-kupu yang masih saja terbalut dalam perutmu!
Selamat atas kemenangan syaraf-syaraf otakmu.
Kadang aku berharap tidak hidup didalamnya..

Surat Cinta yang Terlambat

Aku cinta kamu


Aku pikir, tidak pernah ada kata yang benar-benar cocok untuk menggambarkan perasaan seseorang kepada yang disayanginya.
Dalam bahasa apapun. Bahkan bahasa tubuh yang sering dikelabui nafsu.
Aku bukan ingin berdebat tentang semiotika atau memuja Derrida.
Tapi aku yakin cinta bahkan mengalahkan seorang feminis bertekuk lutut dihadapan lelaki. Maaf kalau mb Simone tersinggung dan plis mz Sartre gak usah besar kepala. Saya juga pasti jatuh dalam pelukanmu, mz (?)
Hanya saja, kadang kita lalai berucap cinta. Atau bahkan lihai bermain puisi.
Manusia selalu butuh kepastian. Dan butuh diyakinkan. Atau butuh kebohongan.

*bersambung