Minggu, 24 Juli 2016

The Island of A Thousand Bats

Travelling seems to be quite a trend in recent years. People starts a trip and upload photos of their journey in social media. Tourism has become the most promising commercial sector. Unfortunately, this then becomes a paradox when the environment starts malfunctioning due to irresponsible tourists. Bad management is also one of the factors.
Ecotourism then became one alternative that proclaimed by the government and non government institutions to encourage tourism in Indonesia. Not just as a place to enjoy the natural landscape but also awareness over environmental preservation. Looking for an advantage in a way that is environmentally friendly. Ecotourism is also expected to improve the welfare of society, cultural development and improve education. In Indonesia, many places that already serve ecotourism, such as Taman Wisata Kawah Ijen crater, Agrowisata Hutan Mangrove Lagoi, Lawang Sewu, Desa Wisata Penglipuran and others. One of the places that will be a place for ecotourism is Pannikiang Island, Barru. Mangrove forests are scattered throughout the island into an attractive tourist destination.


In order to commemorate the International Mangrove Day that falls every July 26, Blue Forests held a series of activities themed Future Mangrove; From Grey to Green. One of them, is educational trip that working with BPBD and BLHD Barru which invites the community of bloggers and photographers to visit Pannikiang Island on Saturday, July 23, 2016. This activity as one example of ecotourism, enjoy nature at the same time learn about the mangrove. After this activity, the participants will write and share trip photos of activities to compete and inspire a lot of people in the conservation of mangroves.

Participants and committe of the edu-trip


Mangrove forests of Pannikiang Island


About 91% of the mangrove covered land Pannikiang Island with good conditions and dense. In Indonesia there are 43 kinds of true mangroves. This amount is more than the other countries. 17 types are grown on the island of Pannikiang. One of the participants of this trip named Zoe, is from Florida, claims to be very interested because there are only 3 types of mangrove on his home country. During this trip, Blue Forest Foundation staffs describes mangrove in Pannikiang. Types of mangrove which grew on this island such as Rhizopora, Avicennia Marina, Bruguiera, Sonneratia and others.







Mangrove has many uses. Propagule or mangrove fruit made into meal or can be processed into chips but almost no utilization of mangrove fruit. Mangrove roots and stems are often made as firewood by the community. It is said that the use of the mangrove wood makes cuisine more palatable than ordinary wood. These forests also serve withstand abrasion which can potentially cause a storm also filter the salt water of the sea so that people easily find brackish water around the forest. In addition, mangrove plants capable of binding carbon five times stronger than other ordinary plants. So today mangrove forest conservation has to be done to tackle global warming. Mangrove forest also become a habitat for many animals.  Woodpeckers, Heron and also bat inhabit at Pannikiang Island. Because of the large number of bat hence the island is called Pannikiang, comes from the local language, Panniki means the bat.

The number of mangrove forests in Indonesia lately declined due to the expansion of embankment. Indonesia has already lost about 40% of the mangrove forests until now. Transfer of this function have a major impact. Earnings from farmed land  are indeed larger than the mangrove forests, but only lasts 3 to 5 years. After the fifth year, the production cost of embankment is usually more expensive than the result so that most of the embankment were left abandoned. In addition lead to easy the storm came, the animals that were once living rely on mangroves also lost their habitats.


Mangrove rehabilitation at Bawa Salo'e, Barru

Therefore, the Blue Forests bend over backwards restoring mangrove forests in Indonesia. For example, the Tanakeke Island in Takalar rehabilitated since 3 years ago. The rehabilitation process usually takes up to 5 years with no easy process. Indeed many government efforts to rehabilitate mangrove forests but failed due to lack of observation and not sustainable. One example of the failure of the mangrove rehabilitation is in Bawa Salo'e, Barru. The rehabilitation process such as urge people around, observing by knowing what type of which used to grow, improve the environment by giving good water channels, and others. Replanting is the last business should do if its natural rehabilitation failed. Some parts of the island of Pannikiang has also been changed to the location of the embankment but now it is being organised into natural rehabilitations. The head of the village called Abu Nawar has been credited with preserving the mangrove forests in the area.

Abandon embankment at Pannikiang Island


Mr. Abu Nawar also admitted welcomed the Government's plans for development of ecotourism. Currently has started eco-friendly construction of the bridge in one point of the island. Pannikiang Island residents expect an increase in welfare of society by the existence of ecotourism. During this time they only depend on the results of the abundant fish in west wind seasons. At that time many new comers who seek livelihoods on the island. While in the east wind season, the population is just trying to survive. The existence of ecotourism, the livelihoods of the population presumably grew. In addition to mangroves, coral reefs even dugong (mermaid fish) also became a tourist potential of the area. Hopefully with this ecotourism development, community more aware of the importance of the sustainability of mangrove and tourists are more responsible.

eco-friendly bridge at Pannikiang Island

Minggu, 13 Maret 2016

Cinta (Kami) seperti Sepasang Anjing dan Kucing

Oleh M. Aan Mansyur (Kukila)


"Sepi digigit anjing tetangga lagi. Ekornya nyaris putus."

SEMALAM, ibuku mengirim pesan pendek. Ia sangat mencintai Sepi-salah satu kucingnya. Kalau berada di Balikpapan, aku sering bermain-main dengan Sepi. Kami, aku dan ibuku, sama-sama pecinta kucing. Sejak ayahku pergi, ibuku memelihara kucing. Sekarang ia punya 27 ekor kucing. 

 Ketika membaca pesan pendek ibuku, aku teringat Nanti. Ia pecinta anjing. Nanti punya empat ekor anjing. Ibuku sangat menyukai Nanti. Ia ingin aku menikahinya. Ibuku belum tahu aku dan Nanti sudah putus.

 Aku ingat percakapanku dengan Nanti, suatu hari di meja makan, di rumahnya. Bukan percakapan, sebenarnya. Ia bercakap dengan senyumku. Sepanjang perbincangan, aku cuma tersenyum. 

 "Kenapa ya, ada orang yang senang menceritakan keburukan mantannya?"

 Ia bertanya sambil mengelap tangannya.

 "Mereka terlihat begitu membenci pilihan mereka sendiri," katanya lagi.

 Aku tersenyum. Aku selalu hanya tersenyum ketika Nanti bertanya seperti itu. Kadang-kadangn ia butuh pendengar ketika bicara kepada dirinya sendiri. Ia tiba-tiba menatapku yang sedang menatapnya.

 "Jika kita berpisah nanti, kamu akan seperti mereka?"
 Jelas itu pertanyaan untukku., tetapi aku diam. Aku menyodorkan senyum sebagai jawaban.

 "Mohon jangan melakukannya," katanya lagi.

 Beberapa saat kami diam. Aku membantunya membereskan meja makan.

 "Kelak, jika ada yang bertanya kenapa kita berpisah, tapi semoga tidak berpisah, katakan saja kita seperti anjing dan kucing," katanya ketika kami beranjak ke ruang tengah.


***

Aku penasaran, jangan-jangan hubunganku dan Nanti dulu memang seperti kucing dan anjing. Aku sering melihat anjing dan kucing akrab. Sangat akrab. Tetapi, seakrab apa pun mereka, kucing tetap kucing dan anjing tetap anjing. Mereka tidak bisa bersatu, kecuali dalam kartun Nickelodeon, CatDog. Dulu, kami sering menonton film itu.

 Aku membuka Google dan mencari gambar kucing dan anjing yang akrab. Aku mau mengirimnya ke telepon genggam ibuku. Aku tidak mau ibuku bermasalah dengan tetangga karena Sepi.

 Seperti biasa, ketika membuka Google. aku sering susah menghentikan diri sendiri untuk klak-klik link. Niatnya cuma mau cari gambar kucing, aku malah menemukan satu artikel yang menurutku lucu. Berbahasa Inggris. Aku menerjemahkannya menggunakan bantuan alat penerjemah Google. Kemampuan bahasa Inggris ibuku cuma setingkat atau dua tingkat di bawah kemampuanku. Aku membuat kesimpulan untuk artikel itu-semacam poin-poin.

Hal-Hal yang Bisa Kamu Pelajari dari Kucing

  1. Berbahagialah melihat orang yang kamu cintai.
  2. Bersemangatlah untuk menjawab rasa penasaranmu sendiri kepada hal-hal baru.
  3. Jangan pernah meremehkan kekuatan pujian.
  4. Jangan takut menunjukkan sukacita. Jika kamu senang, tunjukkan.
  5. Tidur sianglah dan lakukan peregangan ketika bangun.
  6. Bersetialah!
  7. Pada siang hari, ketika panas menyengat, bersantailah di bawah pohon.
  8. Milikilah mainan favorit.
  9. Jangan menyimpan dendam.
  10. Tidurlah dalam posisi yang menurutmu paling nyaman.
  11. Garuk gatalmu sendiri.
  12. Lindungilah orang-orang yang kamu cintai.
  13. Terimalah pujian dan perhatian dengan tulus.

Hal-Hal yang Bisa Kamu Pelajari dari Seekor Anjing

  1. Istirahat dan relaksasi adalah kunci menuju kebahagiaan, dan jangan bekerja terlalu keras.
  2.  Selalu sisihkan waktu untuk tidur bermalas-malasan seperti kucing.
  3. Malam hari adalah waktu yang menyenangkan untuk berbagi dengan keluarga. Sempatkan bermain dengan anak-anakmu.
  4. Habiskan waktu dengan orang yang kamu cintai, terutama saat mereka bekerja. Duduklah di dekat komputernya dan mendengkurlah kalau perlu, sesekali kamu boleh mengacaukan keyboard-nya.
  5. Tunjukkan kepada orang-orang yang kamu cintai bahwa kamu mencintai mereka.
  6. Tunjukkan keriangan ketika mendapatkan hadiah.
  7. Nikmatilah sinar matahari.
  8. Jagalah kamar mandi tetap bersih.
  9. Sesekali duduklah di beranda dan nikmatilah pemandangan.
  10. Bersikaplah mandiri.
  11. Jangan mau melakukan semua yang orang minta.
  12. Tetap tenang. Jika kamu tidak ingin melakukan sesuatu, tidak perlu berdebat.
  13. Jangan takut jika sesekali melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Duduklah di rak buku atau mengintiplah dari kolong kursi.

AKU menelepon ibuku. Kubacakan artikel yang baru kuterjemahkan. Ia tertawa.
 
 Sebelum aku mengakhiri pembincangan, ia bertanya soal Nanti.

 "Kami sudah putus, Bu."

 Akhirnya, aku mengatakannya. Aku sudah menyembunyikan kabar buruk itu selama sebulan.

 "Kenapa kalian putus?"

 "Karena cinta kami seperti sepasang anjing dan kucing."

 Ibuku diam beberapa menit--entah apa yang ia pikirkan.

 "Bagaimana kabar Sepi, Bu?"

 "Lukanya sudah kering," katanya.

***

Rabu, 03 Februari 2016

Surat Pernyataan yang Seharusnya Ditulis Sejak Surat Cinta Hari Pertama

Dear W-,

Hari ini sudah tanggal 4 Februari 2016 dan kau masih merayakan hal-hal yang terjadi sejak empat tahun lalu. Seperti di suratku beberapa hari lalu, aku ingin menegaskan kembali bahwa lepaskanlah kupu-kupu yang ingin beterbangan dalam perutmu itu. Tolonglah. Beberapa saja. Suratku yang kelima ini pun masih menuntut hal-hal yang sama dengan empat surat sebelumnya. Kita sama-sama sakit, W-. Bahkan kekosongan mampu membuat kita sakit. Tapi tunggu dulu, mari kita kaji apa kekosongan itu. Menurutku, kekosongan adalah ketiadaan sesuatu atau kehampaan. Benarkah kekosongan ada di dunia ini? Jika kita mempertanyakan wujudnya berarti dia mengisi suatu dimensi ruang di dunia? Karena saya semakin pusing, mari kita menyerahkan jawabannya pada pakar filsafat yang katanya paling bijak namun kadang tidak ada yang betul-betul terbantu oleh jawaban mereka. Saya skeptis dan plegmatis, baiklah!
Intinya, kau mengerti kan "kosong" maksud saya?
Kekosongan membuatmu sulit menentukan jalan hidup. Padahal, kau adalah seorang perempuan yang cukup visioner dan praktis. Dan lagi-lagi aku menyebutmu skeptis, kau hanya tak ingin semua orang tahu hal itu. 
Hal-hal itu membuatmu tak peduli lagi materi yang melekat di jiwamu. Kau biarkan otak-otak liar menjarah citra tubuhmu yang dulu selalu ingin kau jaga. Aku menyumpahi hal-hal yang kau jaga itu. Sudahlah, kita hidup dalam masa bebas persepsi, se-alim apapun seseorang tidak akan lepas dari para haters. Setiap orang di dunia ini setidaknya punya luka yang sama.

Andai saja, setiap waktu aku bisa memelukmu. Kita sama-sama tahu kau senang dipeluk. Setiap lukamu mudah sembuh oleh 30 puluh detik pelukan. Kau bahkan hampir tak pernah butuh air mata yang katanya penawar racun paling ampuh sedunia. Bahkan di tujuh dunia sekalipun. 
Aku merindukan ketenangan-ketenangan dalam hidup kita berdua. Aku bebas bercengkrama denganmu tanpa beban moral. Mempertanyakan hal-hal lucu sampai paling kejam tanpa tahu jawabannya malah menjawabnya sendiri.
Waktuku sendiri hampir habis atau semoga saja masih lama. Ada masanya kau menemukan hal yang lebih menyenangkan dari menghabiskan waktu bercakap denganku. Kini kau jarang mengunjungiku lagi bahkan sekedar menengok media sosialku. Media sosial maksud saya disini bukan hanya dunia maya tapi dunia tempatku bergaul dan bersosialisasi.
Entah itu kebahagiaan atau kekhawatiran. Aku ingin menghabiskan bulan Februari ini menyuratimu segala keluh kesahku sebelum aku benar-benar hilang. Bersabarlah, masih banyak yang ingin kubicarakan denganmu. Tolong, jangan pernah takut dengan kata-kata ini. Aku bukan pacarmu yang hendak minta putus.

xoxo

Selasa, 02 Februari 2016

Surat Lama

Satu,
Dari sekian banyak kepadatan angka, keutuhan bertolak padamu.

Satu,
Cinta menyembahmu, sedang godaan memecahmu

Satu,
Cukup untukku

Sebab Tuhan hanya menciptakan satu rongga dalam dadaku.

*status lama di facebook*

Surat dari Mimpi

Dear W-

Sudah berapa abad kau meringkuk di pundakmu?
Mencoba mengukur-ukur lembar keringatmu
Melupakan prolog hidup yang lahir dari keringat Ibu tatkala melahirkanmu
Ibumu tidak pernah memberi penggaris melainkan mengajarkan kelapangan gurat-gurat garis tangan yang kasar

Pundakmu, tempat beberapa kepala yang tak sadar bersandar
Tak tahu diri. Tapi kau tak peduli.
Keteduhan bagi yang papa oleh mimpi
Sampai kau menaruh beban di bibir
Kau bilang, tak ada yang betul-betul kau inginkan di dunia ini

Minggu, 31 Januari 2016

Surat untuk Masa Lalu

Dear W-

Apa kabar? Ku harap baik-baik saja.
Ohiya, sekarang kau sibuk apa?
Dulu kau sering bercerita tentang mimpi-mimpi dan imajinasimu. Tentu saja imajinasi bodohmu yang menginginkan kembali ke masa lalu.
Kau selalu bilang, seandainya Tuhan memberi kesempatan untuk mewujudkan satu keinginanmu, kau hanya ingin kembali ke masa lalu dan menjadi anak kecil. Mengulang dan memperbaiki kesalahan-kesalahan hidupmu.
Keinginanmu sungguh tidak adil. Aku takut jika kau kembali dan merubah jalan hidupmu, aku tidak akan pernah hadir dalam hidupmu. Aku takut.
Tapi aku selalu berdoa agar keinginanmu tercapai.
Ah, dulu juga kau bilang kau mau sekolah. Sekarang kau sudah master, ya? Kalau iya, selamat! Kalau belum, ohmaigat! Semangat!
Aku ingat, dulu kau orang yang sangat pesimis dan selalu menyerah pada keadaan. Aku heran, orang yang suka baca buku fantasi itu tidak akan membentuk orang yang seperti itu.
Aku juga ingat, dulu kau selalu menyempatkan diri membaca buku dimanapun! Sebelum teman-temanmu sering mengeluhkan kesibukanmu membaca buku.
Kau juga orang yang sangat tertutup, W-! Mimpi-mimpimu hanya kau ceritakan padaku. Semoga kau tak bohong. Aku pikir, teman-temanmu yang merubah sifatmu itu. Kadang aku bersyukur, kadang aku cemburu. Kau sering melupakanku kalau teman-temanmu mengerubutimu.
Aku bingung, kau diam saja saat teman-temanmu mengambil barang seenaknya dalam tasmu atau berbagi handuk bahkan bantal. Aku tahu, kau benci diperlakukan seperti itu. Kau selalu melampiaskan kekesalanmu kalau kau tiba-tiba menghardik seseorang  yang berbuat seperti itu padamu. Iya, aku cemburu kau tidak pernah lagi protes  jikalau itu temanmu.
Aku lebih suka sifatmu yang penyendiri dan  plegmatis.

W-,
Apa kabar hatimu?
Masihkah sesetia bulan? Masihkah segemulai embun? Masihkah serapuh kedip lampu jalan?
Sudahlah!
Kau terlalu kejam pada debar jantungmu!
Kau terlalu kejam pada kupu-kupu yang masih saja terbalut dalam perutmu!
Selamat atas kemenangan syaraf-syaraf otakmu.
Kadang aku berharap tidak hidup didalamnya..

Surat Cinta yang Terlambat

Aku cinta kamu


Aku pikir, tidak pernah ada kata yang benar-benar cocok untuk menggambarkan perasaan seseorang kepada yang disayanginya.
Dalam bahasa apapun. Bahkan bahasa tubuh yang sering dikelabui nafsu.
Aku bukan ingin berdebat tentang semiotika atau memuja Derrida.
Tapi aku yakin cinta bahkan mengalahkan seorang feminis bertekuk lutut dihadapan lelaki. Maaf kalau mb Simone tersinggung dan plis mz Sartre gak usah besar kepala. Saya juga pasti jatuh dalam pelukanmu, mz (?)
Hanya saja, kadang kita lalai berucap cinta. Atau bahkan lihai bermain puisi.
Manusia selalu butuh kepastian. Dan butuh diyakinkan. Atau butuh kebohongan.

*bersambung