Rabu, 22 Juli 2015

Mudik dan Kapan Menikah

“Kapan menikah?” semacam pertanyaan menakutkan bagi orang berusia diatas 25tahun yang belum memiliki pasangan. Menjelang hari raya Idul Fitri, meme-meme pertanyaan itu berseliweran di media sosial. Meme-meme ini sangat variatif dan kreatif. Cukup bikin ngakak juga kalau di lihat-lihat.







Saat memasuki dunia maya mencari meme-meme lucu , saya bahkan menemukan situs ini; Jawaban Jitu untuk Pertanyaan “Kapan Kawin?” http://chirpstory.com/li/240177. Mungkin teman-teman boleh mencobanya di lain waktu. Laman ini sepertinya agak telat memberi info.


Rupanya, beberapa tahun belakangan ini mudik hari lebaran diidentikkan dengan betapa menakutkannya pertanyaan anggota keluarga tentang menikah. Mudik menjadi terasa berat bagi sebagian jomblo di Indonesia.  


Menurut KBBI daring, mudik adalah berlayar pergi ke udik atau pulang ke kampong halaman. Tradisi mudik ini turun temurun terjadi di Indonesia. Meskipun jarang terjadi di belahan dunia lain, namun masyarakat Indonesia selalu menantikan tradisi mudik ramai-ramai. Mudik memang hanya terjadi menjelang hari raya, membludak ketika hari raya Idul Fitri. Lalu lintas menjadi padat dan tak jarang menimbulkan korban. Bagi seorang perantau, momen ini adalah momen membahagiakan sepanjang tahun. Setidaknya ada alasan untuk pulang ke pelukan orang tua. Terkadang saya lelah menjadi perantau, lelah hidup sendiri. Haha.


Hari raya memang momen paling tepat untuk berkumpul bersama keluarga. Tidak hanya kumpul keluarga, bahkan reuni atau acara halal bihalal. Banyak bertemu dengan teman-teman yang sudah memiliki keluarga baru. Pun acara pernikahan membludak pasca hari raya.


Nah, saat-saat ini tentu saja adalah waktu menanyakan kabar masing-masing. Saya pikir, pertanyaan soal kapan menikah saat hari raya itu memang sejak dulu ada. Sebenarnya bukan hanya pertanyaan kapan menikah, banyak pertanyaan lain seperti kabar, pekerjaan, sekolah dan aktivitas sehari-hari. Jadi ya, nikmati sajalah pertanyaan-pertanyaan itu. Memang sih, tujuan membuat meme itu sekadar lucu-lucuan tapi ada juga yang keterusan galau (opini yang tidak valid oleh penulis).  Jadikan itu sebagai motivasimu agar lebih keras berusaha cari jodoh. Haha.


Rabu, 08 Juli 2015

Bebas Hambatan VS Penuh Hambatan

Berawal dari saya diterima bekerja di PT. Bosowa Duta Energasindo. Letak perusahaan ini di Jalan Ir. Sutami, Kompleks Pergudangan Lantebung, tepatnya disamping jalan tol Makassar. Hampir setiap hari saya mengeluh soal banyaknya badai rintangan menuju tempat kerja. Saya harus  berangkat pagi-pagi sekali jika tidak ingin terlambat, belum lagi dengan jalanan jelek yang harus saya lewati. Maklum, saya hanya mampu membeli sepeda motor. Tetapi, selama musim hujan saya harus menumpang di mobil teman karena jalanan yang sering saya gunakan itu macet parah dan banjir. Menggunakan mobil terasa lebih mudah dan cepat karena melewati jalan bebas hambatan. Ahh, seandainya saya memiliki foto jalan samping tol saat banjir, agak ngeri juga. Bisa memakan waktu hampir tiga jam untuk lepas dari jalan Ir. Soetami ini jika sedang musim hujan. Bagi saya yang di awal bekerja jarang menggunakan sepeda motor agak takut melewati jalan ini karena harus melaju bersama kendaraan-kendaraan berat seperti truk atau eskavator. Sering terjadi kecelakaan karena jalanan yang rusak menyebabkan kendaraan yang berat jatuh kesamping. Sekarang sudah terbiasa dengan keadaan itu.





Akses angkutan kota cukup sulit di jalan ini. Sebenarnya ada trayek angkutan kota yang melewati jalan ini yaitu angkutan kota berkode G, namun harus menunggu cukup lama karena jumlah angkotnya sedikit. Kadang harus menunggu setengah sampai satu jam lamanya. Akhirnya, hampir semua pegawai yang bekerja di sekitar jalan Ir. Soetami ini harus menggunakan kendaraan pribadi jika tidak ingin terlambat berangkat kerja.  Kendaraan pun membludak di pagi hari kerja dan sore saat pulang. Sebenarnya, jika tidak padat kita bisa menempuh jalan ini selama kurang lebih dua puluh menit namun dibeberapa titik jalan ini mengalami kemacetan parah. Perjalanan yang ditempuh menjadi selama kurang lebih 40 menit karena jalan yang rusak.

Dibeberapa tempat hanya bisa dijangkau oleh kendaraan roda dua, sehingga roda empat mau tidak mau harus melewati jalan tol sebelum memasuki jalan Ir. Soetami. Angkot pun harus melewati satu gerbang pembayaran tol saat keluar dari jalan ini tetapi mendapat kompensasi tidak membayar tarif tol. Dibagian jalan ini, tepatnya di jembatan yang dilewati tol, jalanan begitu sempit hingga hanya bisa dilewati oleh satu motor. Disinilah puncak kemacetan yang paling menggerahkan bagi pengguna sepeda motor. Belum lagi terowongan tol yang sedikit sehingga sering terjadi pelanggaran oleh pengguna sepeda motor. Hal itu menambah kemacetan lalu lintas.

Terlihat beberapa pengguna sepeda motor melanggar arah jalan.

 
Puncak kemacetan lalu lintas di jembatan



Sudah banyak keluhan warga yang masuk di Kementrian PU mengenai jalan samping tol ini. Namun, sampai saat ini kurang sekali tindakan nyata dari pemerintah menanggulangi jalanan yang rusak. Banyak pula warga yang mengeluhkan hal ini pada pihak pengelola tol  yaitu Bosowa Bina Marga dan PT. JTSE. Pada saat pembuatan frontage road, jalan Ir. Soetami memang menjadi tanggungan PT JTSE. Tetapi sejak tahun 2009, Kementrian PU telah menyatakan jalan ini sebagai jalan nasional. Terkait dengan perbaikannya, masih dipertanyakan apakah jalan ini menjadi tanggung jawab pemerintah kota atau pemerintah provinsi. Hal itu menyebabkan jalan ini begitu terlantar dalam jangka waktu yang cukup lama. PT. JTSE pun berusaha meminimalisir kerusakan dengan melakukan penimbunan di beberapa titik yang rusak. Jalanan ini mudah rusak karena sistem drainase yang buruk, air menggenang dan menumpuk ketika musim hujan melanda. Padahal, kendaraan berat lalu lalang sekitar jalan ini membuat jalan semakin mudah rusak.

Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan berita bahwa pemerintah akhirnya berencana memperbaiki jalan Ir. Soetami[1]. Dari berita tersebut, diketahui bahwa Pemkot Makassar dan PT. JTSE telah bersepakat segera menyelesaikan proyek pengerjaan jalan ini. Sekitar bulan Juni, saya melihat mulai ada pergerakan perbaikan di sekitar jembatan jalan tol. Semoga saja perbaikan jalan ini segera diselesaikan.

Saya pun agak risih sebenarnya dengan tarif tol yang selangit. Apalagi tarif tol Makassar baru-baru saja naik pada bulan Juni lalu. Agak kasihan melihat supir-supir truk harus membayar tarif tol yang mahal padahal mereka juga harus memikirkan biaya makan dan rokok. Tentu saja mereka lebih memilih lewat di samping tol yang tidak berbayar, serusak apapun jalannya yang penting masih bisa jalan. Tapi, selama bulan Ramadhan pengelola tol memberikan diskon sehingga tarif tol turun hingga Rp. 1.500.
Mari berdoa agar infrastruktur kota Makassar akan segera membaik.





[1] http://www.kabarmakassar.com/metro/jtse-janji-segera-perbaiki-jalan-samping-tol-sutami.html

Senin, 06 Juli 2015

Delusi Stockroom


                Menjamurnya ruang-ruang kreatif yang disokong oleh anak-anak muda lokal memberi nafas baru bagi Makassar. Kota ini mulai menjadi bahan pembicaraan di Indonesia beberapa tahun belakangan. Sejak dulu sentra pengetahuan, kreatifitas dan modernitas berfokus di daerah Jawa dan sekitarnya. Hingga saat ini mulai bermunculan anak-anak muda Makassar berprestasi bahkan sampai taraf internasional. Hal itu tidak luput dari gerakan-gerakan ekonomi kreatif yang berbasis DIY atau handmade. Salah satunya adalah Delusi Stockroom.

                Berawal dari saya yang sedang mencari buku The Catcher In The Rye karya J.D. Salinger terbitan Banana Publisher. Saya ke perpustakaan KataKerja tapi ternyata bukunya telah habis. Namun, sepertinya saya sedang beruntung maka pesanan orang lain beralih ke saya. Tiba-tiba, teman saya yang bernama Ekbes cerita bahwa kamu juga bisa mendapatkan buku yang sama di Delusi Stockroom. Delusi ini bermarkas di jalan Kumala, lanjutnya. Saya pun sigap mendengar karena dibandingkan Katakerja, Delusi lebih dekat dari tempat tinggal saya. Foto-foto Delusi Stockroom juga dipasang Ekbess di akun instagramnya. Makin penasaran lah saya.

                Akhirnya, pada hari Minggu tanggal 5 Juli malam saya memutuskan kesana. Hari itu sebenarnya saya tidak punya rencana sama sekali. Sore hari menjelang buka, saya kopdar bersama teman-teman Klub Buku Makassar di Mama Toko Kue dan Es Krim. Kemudian kami bergosip tentang penulis dan hal-hal lain yang umum dibicarakan perempuan. Eits, namanya memang klub buku tapi kami tidak semembosankan kutu buku yang sejak dulu terstigma di pikiran anak-anak muda yang katanya “gaul”. Terpikir lah saya untuk mengunjungi Delusi Stockroom.

                Setelah janjian bertemu dengan dua orang yang berbeda, tepat pukul Sembilan saya melaju menuju Kumala. Saya tidak tahu persis alamatnya, chat ke Ekbess pun tak di balas. Hanya bermodal gambaran toko disamping masjid saya beranikan diri mencari tempat itu. Ternyata tempatnya sangat mudah didapat. Setelah lampu merah Andi Tonro, belok kiri lalu jalan terus sampai bertemu masjid di sebelah kiri. Nah, Delusi Stockroom tepat disamping kiri masjid itu. Sekitar 200m dari lampu merah.

                Saya sempat malu-malu karena banyak lelaki yang nongkrong didepannya. Tapi, karena rasa penasaran yang tinggi, saya nyelonong masuk saja ke tempat itu. Akhirnya sang pemilik bertanya standar pertanyaan penjual pada umumnya,”Cari apa ki'?” Saya hanya tersenyum dan bilang hanya ingin melihat-lihat saja soalnya penasaran dengan cerita teman. Lama kelamaan kami cerita panjang lebar, saya bilang kalau tempat ini diceritakan oleh Ekbess. Rupanya si Ekbess baru saja meninggalkan tempat itu sekitar 15 menit sebelum kedatangan saya. Mungkin kami belum jodoh bersua.


                Delusi Stockroom ini dimiliki oleh Fajri dan sudah berdiri selama tiga bulan. Dia menjual kaos-kaos hasil sablonannya sendiri. Buku-buku jualannya kebanyakan tidak tersedia di Gramedia. Jadi, Delusi ini bisa jadi salah satu referensi toko buku alternatif di Makassar. Fajri mengaku memesan buku-bukunya dari luar Makassar. Banyak juga kawannya yang menitipkan barang-barang jualannya, seperti tas atau purse handmade, termasuk craft milik Ekbess. Dia juga memajang media-media alternatif tapi sebagai bahan bacaan, bukan jualan. Semacam zine Penahitam dan Kontinum. Lelaki gondrong itu bercerita bahwa stock barang-barangnya masih sedikit namun orang bisa memesan sesuai keingininan. Jika ingin tahu lebih banyak tentang toko ini, bisa di cek di Facebook Fanpage Delusi Stockroom. Semoga sukses terus ya!


Kamis, 02 Juli 2015

Pelangi-pelangi Alangkah Indahnya

Ebony and Ivory live together in perfect harmony
Side by side on my piano keyboard, Oh Lord, why don’t we?

We all know that people are the same wherever we go
There is good and bad in everyone
We learn to live, we learn to give
Eachother what we need to survive together alive

Saya selalu suka mendengar lagu berjudul Ebony dan Ivory yang dinyanyikan oleh Paul Mccartney dan Stevie Wonder ini. Lagu ini lamat-lamat terdengar didalam kepalaku saat membaca kontroversi legalisasi pernikahan sesama jenis di berita online. Pun marak di media sosial. Tagar #LoveWins masih menjadi tren topik sampai sekarang pun pemasangan gambar pelangi sebagai dukungan atas keputusan tersebut. Walaupun sebenarnya Argentina 5 tahun lebih dulu melegalkan pernikahan sejenis namun diyakini bahwa putusan Mahkamah Agung AS ini lebih berdampak ke seluruh dunia. Selain secara politis adalah negara adidaya, AS juga berpengaruh besar di ranah sosial atau media. Ofcourse, who rule the media rule the world. Tak heran jika media sosial menggembar-gemborkan soal peraturan baru ini.

Saya hidup berdampingan dan dekat dengan beberapa orang yang gay dan lesbian. Entah saya harus merasa jijik atau tertawa saat mendengar pacar teman saya mendesah erotis dari dalam kamar. Sementara mereka hanya berdua didalam kamar, lalu apa lagi yang terpikir oleh saya? Hidup bersebelahan kamar dengan seorang lesbian memang membuat saya agak waspada dan segan mengakrabkan diri. Dia adalah sahabat teman saya yang kebetulan dipanggil menemani saya yang sendiri dirumah berkamar tiga. Terlalu banyak kekosongan untuk dihidupi. Kehidupan yang kurang represi itu membuatnya sering membawa pacar menginap. Maka dari itu, saya tak jarang mendengar gedebuk-gedebuk perkelahian, tawa ataupun desahan. Ternyata saya kesepian dikamar sendiri. Bahkan, saya agak waspada bila berpakaian minim di rumah, padahal dia juga muhrim. Dia sepertinya berperan sebagai laki-laki untuk pasangannya. Pasangan lesbian standar pada umumnya, teman saya yang sangat tomboy dan pacarnya yang feminim.

Saya pun sempat nongkrong beberapa kali dengan para lesbian muda di KFC Ratulangi. Banyak dari mereka yang berkenalan dan pacaran via Facebook. Mereka punya komunitas di media sosial, tempat saling berbagi dan berkenalan. Bahkan saya juga mendengar cerita-cerita gila para lesbian dari mereka. Love is blind, darling! Mereka rela berkorban apapun demi cinta pada pasangannya.
Lain lagi dengan sahabat saya yang berjenis kelamin laki-laki. Dia seorang gay, tapi kelakuannya didominasi oleh sifat jamaliyah. Saya memperlakukannya pun bak perempuan, bermanja, bergelayut dan bergosip. Meskipun kadang, orang-orang bilang kami sebaiknya pacaran saja. Tapi, perlu kalian tahu, kami tak mungkin bersama karena selera kami “sama”. HAHAHA. Sahabat saya ini tak jarang menunjukkan foto kemesraannya ataupun percakapannya dengan pasangannya. Rasa jijik mungkin ada tapi dia sahabat saya yang super baik. Dia pernah bercerita masa kelam penyebab dia menjadi seorang gay sampai sekarang. Dari dia pula kuketahui soal situs-situs chatting sesama gay atau kelakuan-kelakuan seksual aneh para pasangan sejenis.

Dari cerita-cerita mereka, kuketahui penyebab seseorang menyukai sejenis kebanyakan karena trauma. Entah trauma masa kecil atau sakit hati karena pasangan lawan jenisnya. Sebenarnya saya ingin bercerita lebih detail, namun saya sudah berjanji tidak menceritakannya pada siapapun. Biarlah menjadi rahasia pribadi masing-masing para penyuka sejenis itu.

Saya dihadapkan pada masalah apakah saya harus menentang atau mendukung. Sungguh absurd memilih antara kebenaran dan kebaikan. Saya meyakini bahwa menyuka sesama jenis tidak dianjurkan oleh agama, namun bukankah setiap agama bernafaskan perdamaian dan kebaikan. Dalam hal ini, apakah mungkin saya mengecam sahabat yang baik, bahkan lebih baik dari mereka yang menyebut diri “normal”. Saya kira, LGBT terus mempertanyakan tentang toleransi sesama manusia. Saat ini, adanya peraturan legalisasi pernikahan sejenis dan menjamurnya komunitas LGBT secara terang-terangan menunjukkan keeksisan mereka. Dunia bukan lagi terdiri dari hitam dan putih, namun merah hijau kuning biru nila ungu pun turut meramaikan interaksi sosial masyarakat. Tidak hanya lelaki dan perempuan yang berpasangan, namun ada lesbian, gay, biseksual dan transgender. Bukankah warna-warna lebih indah bila disandingkan bersama?

Rabu, 01 Juli 2015

A CONFESSION


Apa saya lupa memberitahumu? Atau apa saya harus memberitahumu? Tidakkah kau perhatikan?

1. Warna favoritku, yang kau tahu setelah dua tahun sering bercengkrama denganku. Iya, hijau. Juga  merah.

2. Aku berani bertaruh, kau tidak pernah tahu soal makanan kesukaanku. Asal tahu saja, aku tidak suka makanan manis. Sepertinya teman-teman kantorku lebih tahu itu. Aku membenci  kecap. Bahkan kopi atau teh yang manis. Kopi adalah alasan bahwa hitam dan pahit itu termasuk kebahagiaan. Dulu, waktu kecil aku suka gado-gado. Sekarang pun, tapi benci pecel yang terlalu manis. Aku masih bisa mengecap rasa gado-gado kesukaanku waktu kecil. Sulit menemukan rasa yang sama sekarang ini. Aku juga suka sate, tapi tanpa bumbu. Sudah berkali-kali aku tekankan, aku tidak suka hal yang berlebihan. Mungkin karena itu aku bertahan denganmu. Cinta yang timbul tenggelam, tidak berlebihan. Sesederhana sebaris pesanmu di pagi hari, cukup.

3. Hmm.. belakangan aku perhatikan tulisan black flag di statusmu, juga di baju barumu. Dulu aku sering mendengarkan lagunya. Ya, meskipun satu saja, “Rise Above”. Haha. Aku ingat, aku pernah memberitahumu soal itu dan kau berkata remeh,”coba nyanyikan kalau memang suka”. Entah apa maksudmu, saya tidak pernah ragu soal selera musik saya sendiri. Semua orang punya selera masing-masing, bukannya ikut-ikutan. Kemudian, baru beberapa bulan lalu saya menceritakan bagaimana sejak kecil saya menyukai musik. Astaga, entah apa yang kita bicarakan selama 3 tahun. Aku yakin, dulu aku senang bersamamu membicarakan persoalan musik. Lantas, aku baru sadar, aku tak pernah bercerita banyak dan kau tak pernah ingin tahu. Sejak SMA, aku memang selalu belajar menyesuaikan diri dengan orang lain dan kesukaannya. Setiap kali kita dipanggil bernyanyi bersama, aku sedih. Ternyata kita tidak pernah seakrab itu, tidak pernah bernyanyi bersama di waktu-waktu kosong. Padahal semua orang tahu kita penggemar musik, kau bahkan pemain musik, aku cuma amatiran, haha. Semua orang juga yakin, kita punya lagu kesukaan bersama dan sering menghabiskan waktu bersama musik. Siapa pun yang membaca ini, saya tekankan kami tidak pernah seperti yang mereka pikir. Kami hanya membicarakan musik yang sedang kau dengarkan, sedang kau suka, sedang kau nyanyikan atau kau mainkan. Bukan lagu-lagu kesukaanku.  Sekarang aku ingin bercerita, aku suka WSATCC atau musik swing jazz tapi kurang referensi. Sejak kecil, setiap hari Minggu aku harus rela menonton MTV dibanding kartun favorit anak-anak jamanku. Kakak-kakakku memang terlalu mendominasi, terlalu malah dibandingkan orangtuaku. Aku cuma bisa nonton Detective Conan yang dikemudian hari mempengaruhiku menggemari cerita detektif. Juga nonton Ninja Boy, saya suka tertawa dan bercanda. Kau tidak tahu itu, kan? Tolong jangan tanya serial dragon ball, aku lupa dan jarang menontonnya. Lalu aku juga menggemari The Corrs, Dewa 19, Tatu, M2M dan lagu-lagu mainstream yang sering dinyayikan remaja perempuan. FYI, aku bukan fanatik Westlife seperti kebanyakan teman-teman perempuanku tapi saya cukup hafal beberapa lagunya. Aku tidak suka mengumpulkan poster Westlife di kamarku atau di binderku. Haha. Waktu SMP, saya juga penggemar LINKIN PARK. Astaga, sejak bertahun-tahun yang lalu aku selalu teliti mendengarkan permainan dj Mr. Han di lagu-lagu mereka, bukannya suara Chester. Beranjak SMA, referensi laguku mulai banyak. Saya penggemar sealbum System of A Down, entah kenapa aku selalu malu mengakui hal ini. Aku tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Seorang temanku juga membuatku fanatik dengan Blink182, mungkin karena itu saya juga suka Angel of Airwaves. Saya juga penggemar lagu-lagu Jepang tapi tidak pernah ingat lagu Jepang mana yang dulu sering kunyanyikan. Mamaku tahu pasti akan kegemaran anak-anaknya pada musik. Awalnya, aku dibelikan walkman berwarna biru merek Sony yang kubawa kemanapun. Dulu, saya juga sangat rajin mendengarkan radio. SMA, Mamak pun membelikan mp3 player yang hanya muat beberapa belas lagu. Untung saja sekolahku cukup maju, saya jadi rajin online dan men-download banyak sekali lirik lagu. Lalu meminta tolong pada kakakku agar di-print. Kakakku bahkan memberikan ordner untuk koleksi lirik laguku. Thanks to you, sis! Saat kuliah, aku sering sekali mendengarkan lagu-lagu heavy metal karena pacar kakak. Dia rajin belajar main gitar dengan andalannya si Joe Satriani atau band Metallica. Aku bahkan punya film dokumenter tentang musik metal di komputerku, Global Metal - since the era of BLACK SABBATH. Tapi ya gitu deh, susah hapal lagu metal. Paling cuma dengar nu metal or rapcore seperti Linkin Park atau Limb Bizkit. Haha. Aku juga dengar heavy metal tapi tidak juga, seperti Metallica or Deep Purple and Led Zeppelin. Sampai sekarang sebenarnya masih sulit membedakan jenis musik metal, semoga tidak salah, I tried my best! Waktu kuliah, I explore many songs in my life from mainstream to underground and alternatives. Most of them are mainstreams. Hehe. Mungkin kau juga tidak tahu aku suka L’arc en Ciel dan AKG. Aku suka macam-macamlah, everybody can talk about music with me. Meskipun saya tidak terlalu hapal musik indie lokal. Terlalu banyak genre musik  dan semua orang punya genre masing-masing. Tidak ada orang yang bisa men-judge secara pasti tentang bagus tidaknya selera musik seseorang. Kadang mereka hanya terlalu banyak diperdengarkan musik yang kurang bagus di ranah publik. Namanya juga “mainstream”. Kasihan.

4. Kak, kau tahu soal kebiasaanku ngopi? Tidak L. Kau tahu tentang sensitifnya teman-temanku di grup? Tahu tentang kegemaranku menggambar? Tahu tentang kebiasaanku ke pasar bersama teman-teman katakerja? Tahu tentang mengerikannya orang-orang di kantorku karena cinta, harta dan tahta? Tahu tentang cerita lucu soal sahabat-sahabat kesayanganku? Tahu tentang klub buku dan Ammacaki? Tahu tentang kebiasaanku yang jahil? Tahu tentang aku yang senang tertawa? Tahu kalau candaanmu garing buatku dan aku tertawa agar kau senang? Tahu buku apa yang sedang kubaca? Tahu tentang pola tidurku setiap hari? Tahu kalau aku sering rindu setengah mati? Tahu kalau aku hampir lupa rasanya rindu karena entah apa yang kurindukan? Tahu isi blogku? Tahu twitterku? Tahu saya foto dimana? Kau bahkan tidak peduli foto liburanku. Haha. Tahu kalau aku sedang sedih kalau menelponmu?

Ya ampun, aku tahu kau suka musik. Kau sering bercerita tentang-tentang lagu-lagu yang kau dengar dan mainkan. Aku tahu kuku-kukumu yang sering kotor padahal kau seorang pianis. Aku tahu cerita tentang teman-temanmu, aku berteman bahkan hampir sebagian dengan mereka di social media. Aku tahu cerita tentang supirmu yang selalu kau tertawakan. Aku tahu tentang kekesalanmu pada kegiatan-kegiatan yang kau ikuti. Kau selalu bertanya padaku. Tak pernahkah kau sadari, kau selalu bertanya dan bercerita apapun padaku. Bahkan kau bertanya berkali-kali seperti biasa, aku rela menjawabnya dengan sabar. Aku tahu makanan kesukaanmu, Lasagna. Kau juga suka sekali menggunakan baju hitam. Aku tahu kebiasaanmu yang aneh soal telinga dan kunci motor, cara makanmu yang berantakan, rambut putihmu yang keterlaluan, mandi yang kadang sekali untuk beberapa hari. Aku kadang hanya tahu saja apa yang kau lakukan saat terlambat atau lagu apa yang baru saja kau putar. Hanya tahu saja, entah. Aku tahu yang membuatmu terlambat, nonton atau main komputer atau ngobrol berkepanjangan. Benar, kan? Ah capek menyebutkan semuanya. Aku juga sadar kalau kau cukup banyak tahu tentang diriku tapi tidak sedalam yang kau kira.

5. Apakah sebenarnya aku ada di rencana masa depanmu? Kau tahu, aku ingin sekali bercerita tentang mimpiku sejak kecil. Malu! Mungkin keseringan membaca dan nonton serial detektif. Iya, serial Conan lah, QED, Kindaichi, Agatha Christie, CSI, Hawaii Five O, NCSI, Law & Order dan lain-lain. Aku ingin menjadi agen rahasia yang memecahkan kasus. HAHAHA. Sewaktu SMA, sempat terbersit, apa mungkin kalau masuk kedokteran bisa sekolah kriminologi atau tukang autopsi. Kemudian aku merasa, I really cant be a doctor. I cant! Haha. Kau saja sering salah diagnosa tentang diriku. Huh! Lalu saat kuliah, aku menemukan mimpiku lagi, bisakah aku mendaftar di Badan Intelijen Negara? Namun, selalu kuurungkan niatku mendaftar. Sampai suatu waktu, seorang teman bercerita bahwa dia sempat mendaftar kesitu. Wow Keren! Sayangnya, dia tidak lolos. Someday, aku harus mendaftar kesana.
Kau pikir, aku tidak punya mimpi sendiri tatkala ku tanyakan tentang dirimu dan mimpimu. Bukannya ingin mengikutimu, aku hanya ingin merencanakan. Apa salahnya berencana? Aku ingin menargetkan waktuku tentang mimpi-mimpiku dan rencana denganmu itu ada didalamnya. Mengerti? Tidak? Jadi, aku ingin mencocokkan waktuku menyelesaikan mimpiku dan waktumu menyelesaikan mimpimu. Kau tahu, bertemu di ujung jalan.  And I want you to be with me whenever I fall from my dream. But I cant even find u now.
Tapi, masalahnya, kau bahkan tidak punya rencana untuk hidupmu sendiri. Kau memang tipikal anak yang manja, terbiasa diurusi oleh Tante dan Ibumu. Terkadang, kau bahkan tidak becus mengerjakan pekerjaan lelaki pada umumnya.

Kau rajin menelepon keluargaku, kau datang kalau mereka mengunjungiku, kau menemaniku membelikan semua pesanan mereka. Kau juga datang ke Sorowako. Kau rajin membelikanku barang, meskipun dengan wajah kusutmu yang tidak ikhlas. Kau tahu, aku benci wajahmu yang tetiba perhitungan. Padahal aku tidak pernah meminta dibelikan. Kau tetiba saja menawarkan, lalu berpikir. Anak yang aneh! Tapi kau tetap membelinya. Terimakasih! Kau selalu tahu kalau aku marah atau kesal, kau datang membawa buku atau coklat. Belakangan ini, kau tidak pernah lagi memberiku coklat. Sedihnya.
Aku tidak pernah melarangmu bepergian dengan siapapun dan kemanapun, selama hal itu masih positif. Aku bahkan menelpon tengah malam mencari tahu kabarmu karena keluargamu meneleponku. Jadi, jangan terlalu merasa! Haha. Sudah pernah kukatakan, tidak apa-apa kau terlambat asalkan kita tidak dalam keadaan terburu-buru. Ah, kadang aku benci dan menangis kalau kau membuatku menunggu sampai tiga jam. Membuang-buang waktuku. Kau juga jarang sekali membanggakanku, terkadang hanya senyum remeh kalau aku menceritakan sesuatu tentang diriku. Kau juga tidak menyimpan fotoku di telepon selularmu, saya juga sih. Hehe. I treat u the way u treat me, honestly. Sekarang ini, aku tak bisa mengingat kenapa aku mencintaimu. Apa karena aku hanya terbiasa atau karena takut sendirian. Tapi, sama saja! Aku tetap sendiri kok.
Aku bahkan jarang sekali meminta bantuanmu, jarang memintamu mengantarku kemana-mana, jarang bertemu denganmu. Bisakah sekali saja kau tidak terlambat kalau kita berjumpa? Bisakah kau bersemangat sedikit tiap ingin bertemu denganku? Bisakah aku merasa spesial?
Kau selalu saja memintaku menontonmu didepan panggung, tapi entah mengapa kau tak pernah datang melihatku di panggung.

Kita seiman, itu yang paling penting buatku. Kau mungkin paket yang komplit. Tapi aku bermimpi bersama dengan orang biasa saja tapi melengkapiku. Sederhana tapi tahu cara menghargai orang lain serta pekerja keras. Keluarga kecil yang bahagia, sesederhana itu.

Sebenarnya ini adalah pengakuan tentang aku yang terlalu mencintai diri sendiri. Sejak dulu, aku punya pemahaman kalau mencintai bukanlah hasrat ingin mendominasi atau memiliki. Selalu saja cukup dengan kau mencintaiku apapun caramu. Tapi, kali ini aku ingin sekali merasakan perasaan yang tulus, perasaan-perasaan yang mengasihiku tanpa beban.  Perasaan terlindungi dan diperhatikan secara mendalam. Tidak perlu setiap waktu. Aku tidak pernah suka yang berlebihan. Aku ingin ada seseorang yang mengetahui tentang diriku, hal-hal kecil tentangku, mimpi-mimpiku, tempatku berbagi sampai aku tak perlu mengetikkan tulisan ini.


Aku sedang egois, mencintai diriku sendiri dengan cara mengharapkan orang lain yang bisa mencintaiku sepenuhnya. Kau yang baik dan aku yang egois.