Rabu, 25 Maret 2015

Gelombang Alfa Penuntun Kearifan



SUPERNOVA : GELOMBANG
Karya Dewi Lestari
Penyunting : Ika Yuliana Kurniasih
Yogyakarta: Penerbit Bentang (PT. Bentang Pusaka)
Cetakan Pertama, September 2014
482hlm; 20cm.
ISBN 978-602-291-057-2

Blurb :

Sebuah upacara gondang mengubah segalanya bagi Alfa. Makhluk misterius yang disebut juga Si Jaga Portibi tiba-tiba muncul menghantuinya. Orang-orang sakti berebut menginginkan Alfa menjadi murid mereka. Dan, yang paling mengerikan dari itu semua adalah setiap tidurnya menjadi pertaruhan nyawa. Sesuatu menunggu Alfa di alam mimpi.
Perantauan Alfa jauh membawanya hingga ke Amerika Serikat. Ia berjuang sebagai imigran gelap yang ingin mengubah nasib dan status. Pada suatu malam, kehadiran seseorang memicu Alfa untuk menghadapi ketakutan terbesarnya. Alam mimpinya ternyata menyimpan rahasia besar yang tidak pernah ia bayangkan. Di Lembah Yarlung, Tibet, jawaban mulai terkuak.
Sementara itu, pencarian Gio di Tio Tambopta menemui jalan buntu. Pada saat yang tak terduga, pria yang pernah menemuinya di Vallegrande kembali muncul. Pria itu mengarahkan Gio ke pencarian baru. Petunjuknya adalah empat batu bersimbol, mempresentasikan empat orang, dan Gio ternyata adalah salah satu dari mereka.

Review :

“Selapis kelopak mata membatasi aku dan engkau
Setiap napas mendekatkan sekaligus menjauhkan kita
Engkau membuatku putus asa dan mencinta
Pada saat yang sama”

Seperti biasa, Dee selalu memulai bukunya dengan puisi yang khidmat.

Setelah penantian panjang selama dua tahun sejak serial Supernova keempat lahir, akhirnya Gelombang terbit juga. Salah satu science fiction Indonesia yang dinanti-nanti penggemarnya. Dewi Lestari, sang pengarang, dengan apik membuat para pembacanya tersihir semacam aku yang tersihir oleh Alfa, tokoh dalam edisi Gelombang ini. Asiknya, edisi Gelombang ini bisa dipesan dengan tanda tangan Ibu Suri Dee didalamnya. Masih mengikut dengan model sebelumnya, tiap edisi terbit dengan sampul berwarna hitam dengan logo khas yang mewakili masing-masing serial.

Novel ini diawali dengan cerita tentang Gio yang telah ada di serial pertama Supernova.
Gio yang tak kenal lelah mencari Diva, mataharinya. Gio, merengek meminta pengampunan cinta atas kehilangan.

“Kabut yang tak tergenggam. Dan, aku telah jatuh cinta habis-habisan”.(hlm. 8)

Diantara pencariannya itu, Gio bertemu dengan seseorang misterius yang pernah ia temui beberapa waktu silam. Orang itu seakan tahu dimana Diva dan mengatakan banyak hal aneh tentang batu dan pencarian.

“Ada banyak hal yang tidak tertangkap oleh mata kita. Bukan karena mereka tidak ada. Melainkan, kemampuan kitalah yang terbatas untuk melihatnya.”(hlm. 13)

Seperti buku-buku sebelumnya, satu buku mewakilkan satu tokoh yang hidupnya dijabarkan secara detail. Kali ini tentang seorang yang begitu menawan hati, Alfa. Sejak kecil Alfa telah menunjukkan keistimewaannya. Tak salah jika orangtuanya memberi nama Thomas Alfa Edison dan dikenal dengan panggilan Ichon. Ah ya, saya sangat suka penamaan tokoh-tokoh ini. Saudara-saudara Alfa bernama Abert Einstein dan Sir Isaac Newton.

Hidup penggemar serial Kho Ping Hoo ini berubah drastis semenjak upacara pemanggilan roh tepat sehari setelah ulang tahunnya. Tiba-tiba dukun-dukun berdatangan kerumah mereka ingin menjadikan Ichon sebagai muridnya. Sementara Ayahnya yang berharap besar terhadap Ichon harus segera mengambil keputusan hiijrah ke Jakarta walau dengan biaya yang pas-pasan.

Tidak lama berada di Jakarta, Ichon harus bertaruh dengan hidupnya lagi di Amerika Serikat. Sebagai imigran gelap yang tiap hari berjudi nyawa, Ichon berusaha keluar dari kubangan lumpur hidup kumuh di Amerika sana. Ichon akhirnya lulus disalah satu kampus Ivy League. Disana, Ichon diperkenalkan cara memperoleh banyak uang melalui Wall Street hingga akhirnya sukses besar.

“So stand out from the crowd when you have a chance. Grab their attention, right then and there. They look for a man of action. So, show them that.” (hlm. 188)

Namun, Alfa mengalami insomnia akut. Tidur baginya adalah bertarung dengan nyawa. Akhirnya Alfa bertemu perempuan cantik yang membuatnya tertidur dan hampir mati. Setelah itu, Alfa pun mulai mempelajari mimpi-mimpinya disebuah pusat kajian mimpi dan mengantarkannya ke Tibet.

Kali ini, saya benar-benar jatuh cinta pada tokoh ciptaan Dee. Saya selalu suka pada musisi seperti Alfa, sang gitaris handal pecinta Fender. Saya juga seorang insomnia akut yang suka mencuri waktu 15 menit untuk tidur. Buku ini membawa saya terlalu larut dalam perjalanan emosi Alfa yang terus mencari tahu tentang dirinya.

Meski sama dengan pola sebelumnya, setiap serial membuat kita tidak bosan menunggu edisi berikutnya. Gelombang seperti membuka tabir besar akhir dari serial ini. Tiap buku sebenarnya punya cerita yang bisa berdiri sendiri namun akan sulit memahami jika tidak membacanya dari awal, apalagi di Gelombang ini memunculkan dua tokoh penting dari Supernova sebelumnya.

Buku-buku Dewi Lestari selalu sarat pengetahuan. Penuh dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam kehidupan layaknya filsuf. Gelombang menceritakan tentang adat dan kosmologi Batak yang menarik. Ada juga tentang penjelajahan mimpi, lucid dream dan sedikit mengenai kebudayaan Tibet. Saya kira, Dee melakukan riset yang panjang sebelum menulis bukunya. Jadi, bila ada yang tidak suka dengan ceritanya, setidaknya kita masih bisa menikmati selipan-selipan pengetahuan didalamnya. Itulah kenapa Dee juga merupakan salah satu penulis science –fiction yang sukses. Dia juga Dewi Cupid yang hebat. Hehe.

“I’m the eye in the sky..looking at you.. I can read your mind.” (hlm. 465)

Rabu, 18 Maret 2015

MEMBACA

selalu ada pertanda yang dapat ku baca di bagian tubuh seseorang
entah itu mata, mimik wajah, garis-garis tangan atau tungkai

suatu hari, aku jatuh di sungai bidadari
Jaka Tarub yang menyadarkanku.
Aku membantunya mencuri selendang Nawangwulan

aku mengagumi kuku-kuku, siku, dagu, pun bahu milik Nawangwulan
setiap ada sekelebat berkat mencegat
takkan ku tunggu lama menafsirkan gerak gemulai tubuhmu, Nawangwulan.

kukira alam telah lama berkonspirasi perihal ini
perihal aku yang menebak masa lalu dan masa depan orang lain
pun perihal kau sang dewi dan tanpa arti yang sanggup kutangkap

angin selalu menyuruhku mengejarmu
katanya, tidakkah aku penasaran dengan ketidaktahuanku?
ketidaktahuan yang makin menjadi-jadi saat rambutmu dikibaskan olehnya

aku selalu beralasan rambutmu menghalangi pembacaanku.
tiap helainya seperti perisai hitam kokoh menggelungmu
dan angin menghempaskan keraguanku atasnya,

kata ular, aku harus menyentuhmu
tapi aku tahu takkan ada kejutan listrik,
reaksi yang selalu muncul setiap tanganku menyentuh kulit asing
Bahkan kau mungkin melihatku seperti bisa mematikan

Lalu burung beo menyuruhku memanggilmu
Maaf beo, bukannya aku merendahkan
tapi kerendahan hati yang ahli menaklukkan simpati
bukan omong besar yang membeo

Tiba-tiba roh Nawangsih melayang-layang
Meronta atas hidupnya yang belum juga mendiami janin
Dia berbisik, jatuh cinta-kah atau penasaran-kah aku?
aku terhentak dan merutuk sekaligus merindu

Nawangwulan, yang selamanya tak mampu ku baca.

Selasa, 17 Maret 2015

IL POSTINO


IL POSTINO
Antonio Skarmeta
Penerjemah : Noorcholis
Penerbit Akubaca
Jakarta, September 2002
171 hlm

Blurb     :

Bagai sekuntum bunga pada wanginya
Aku terikat pada kenangan samar tentangmu.
Aku hidup dengan perih yang mirip luka.
Jika kau sentuh aku, kau kan merusakku hingga mustahil diperbaiki.

Review :

Kukira Antonio Skarmeta tergila-gila pada puisi-puisi Pablo Neruda. Dia mengabadikan Neruda dalam novelnya ini meskipun tidak secara detail. Maksudku, siapa yang tidak jatuh cinta pada Neruda? Dia sering menulis puisi-puisi yang berbau politis sekaligus surealis dan membuatnya menjadi pemenang Nobel. Puisi-puisi cinta dan erotiknya pun memikat.

Novel ini berlatar kisruh politik di Republik Chile dimana Pablo Neruda sempat di calonkan menjadi presiden. Neruda yang juga seorang komunis akhirnya memberikan suaranya kepada Salvador Allende. Namun, tokoh utama sebenarnya bukan Pablo Neruda melainkan seorang bocah yang bekerja sebagai tukang pos bernama Mario Jimenez.

Saya sempat menduga-duga bahwa Antonio Skarmeta sebenarnya menggambarkan kekagumannya pada Pablo Neruda lewat Mario Jimenez.

Selalu begitu setiap hari: dimulai dari pertemuan amat singkat dengan si penyair hingga matahari surut dan tiba waktu tidur, sang tukang pos akan selalu membawa-bawa buku Elementrial Odes-nya dengan harapan suatu hari kelak mampu mengumpulkan keberanian yang di perlukan. (hlm. 25)

Demi kesetiaan mutlaknya pada sang penyair, ia bersumpah tidak akan bunuh diri sebelum membaca lembar demi lembar dari tiga ribu halaman buku yang dihadiahkan kepadanya. (hlm. 50)

Sebagai tukang pos, Mario Jimenez hanya bertugas mengantarkan surat pada satu orang, yaitu Pablo Neruda. Kebahagiaannya membuncah ketika tahu tugasnya walaupun tidak dibayar sesuai dengn kesulitan pekerjaannya itu. Hari demi hari dia selalu berusaha membuka pembicaraan dengan sang penyair. Sang penyair yang notabene seorang yang tidak acuh tentu saja merasa terganggu dengan si bocah. Namun pada akhirnya mereka akrab sampai Pablo Neruda di nobatkan menjadi wali mempelai saat pernikahan Mario dengan Beatriz Gonzales.

Saat pemilihan Presiden pun Mario tetap mempertahankan kebaikan nama Neruda meskipun Neruda harus meninggalkan kota mereka karena tetek bengek arus politik di Chile. Hampir semua orang didaerahnya pun memilih lawan politik Neruda karena merasa bahwa penyair tidak pantas menjadi presiden.

Neruda adalah penyair besar. Mungkin terbesar dari sekalian penyair malah. Tapi jujur saja, Bapak-bapak, tak bisa saya bayangkan beliau sebagai presiden Chile. (hlm. 52)

Terinspirasi dari Neruda, Mario pun mulai mebuat puisi-puisi indahnya sendiri dan mempersembahkannya pada perempuan yang dicintainya. Mario juga kerap membacakan puisi Neruda untuk Beatriz pun didepan khalayak ramai pada acara politik-kebudayaan Partai Sosialis San Antonio. Tak ada keraguan bahwa perempuan manapun akan meleleh dibacakan puisi Neruda, aku pun.

“Tidak, Ibu! Ia menatapku dan kata-kata itu meluncur dari mulutnya bagai burung-burung.” (hlm.61)

Telanjang engkau sesederhana sebelah tanganmu,
halus, duniawi, mungil, bulat, tembus pandang, gurat apel, lingkar bulan
Telanjang engkau sehalus terigu.
Telanjang engkau bagai malam di Kuba yang biru
Merambat sulur-sulur anggur dan mengerjap bintang-bintang di rambutmu.
Telanjang engkau begitu indah dan begitu kuning
bagai musim panas di gereja bersepuh emas.
(hlm. 76)

Mario dan Beatriz pun akhirnya menikah setelah ditentang sekuat tenaga oleh Ibu mempelai wanita. Sesuai janjinya, Pablo Neruda menjadi wali mempelai. Setelah itu, Pablo pun berangkat ke Perancis karena ditunjuk oleh Presiden Salvador Allende menjadi duta besar disana.

Sang penulis novel ini, Antonio Skarmeta, dengan apik menceriterakan kehidupan Mario Jimenez dan istri sampai mereka mempunyai anak bernama Pablo Neftali. Di sela-sela itu, Antonio tetap menyertakan kondisi politik di Chile. Sampai akhirnya Presiden Allende dibunuh dan Pablo Neruda pun menjemput kematiannya.

Aku pulang ke laut dibungkus langit,
kesenyapan antara dua gelombang
menciptakan ketegangan wingit,
kehidupan mati, darah berhenti
lalu gerak baru mengembang
dan suara ketidakberhinggaan kembali kumandang
(hlm. 142)

Il Postino telah diterjemahkan lebih dari 25 bahasa. Terjemahan bahasa indonesianya bagus, pun sampul dengan kutipan puisi cukup menarik.
Novel ini sangat saya rekomendasikan bagi para pecinta puisi dan penyair di dunia. Kalimat-kalimat yang menggambarkan tentang puisi begitu menggugah.

“Bukan, Pak. Puisi itu tidak aneh. Yang aneh adalahg apa yang saya rasakan ketika anda mengucapkannya.”(hlm. 33)

Beberapa puisi Pablo Neruda pun dicantumkan dalam novel ini. Seperti saat perselisihan Beatriz dan ibunya mengenai Mario Jimenez.

“Aku menyukai cinta para pelaut yang mencium lalu pergi. Mereka tak pernah meninggalkan janji, mereka tak pernah kembali.”
“Aku menyukai cinta yang berkubang dalam ciuman, ranjang dan roti.”
“Aku tak menginginkannya, kasihku, tiada apapun mengikat kita, tiada apapun menyatukan kita.”
(hlm. 62-63)

Buku ini juga dilengkapi dengan biografi singkat Pablo Neruda serta pidato pemenangan Nobelnya. Semoga sang penyair megah ini selalu tercurahkan keharuman surga, tanda cinta dari para pemujanya.

“Sebagai kesimpulan, saya ingin mengatakan kepada semua orang yang berniat baik, kepada para pekerja, dan kepada para penyair bahwa seluruh masa depan sudah diekspresikan oleh Rimbaud dalam satu kalimat diatas: hanya dengan kesabaran yang membara kita akan menaklukkan kota agung yang akan memberikan cahaya, keadilan, dan martabat bagi seluruh manusia.”
“Dengan demikian puisi tidak akan dilantunkan dalam kesia-siaan.”
(hlm. 119)

P.s : Terimakasih Kak Aan, telah merekomendasikan buku ini untuk di baca.