Minggu, 20 September 2015

Dont Trust Me

I wanna hear your playlist and your hiss.
Perhaps, listening the sound of your beat is a bliss
I want to know what kind of sadness you are, or dream that u put in a lullaby.
Give me some songs of innonce to avoid hurt
But don’t give me your heart.
Don’t trust me.

Tell me, about the singing poem  in your mind.
Let your lip move, speak about the tale of broken promises.
Why you don’t like to recount about the long hair that connect your notes?
About you, who longing the tone of her step and story?
But don’t say anything about love.

Don’t trust me.

Selasa, 08 September 2015

Dear Tari, Perempuan Misterius yang Jatuh Cinta Pada Masa Lalu

    Saya mau ber-HIGH FIVE dengan Kak Tari. Ini kali kedua saya menengok blog-nya. Pertama, waktu dia me-review blog saya dan kedua adalah kebalikannya. Berhubung blog kami sepertinya sama sederhananya maka saya ingin melakukan tos. Milik saya bahkan tidak punya kategori. Kategori pertama yang saya buka adalah Tak Berkategori. Sesuatu yang sulit dideskripsikan kadang kala ada sesuatu yang benar-benar bersifat pribadi oleh seseorang. Saya lalu menemukan laman yang berjudul Dear Kamu, Wanita yang Sedang Jatuh Cinta. Protes pertama saya adalah, saya benar-benar tidak menyukai penyebutan “wanita”, saya lebih suka menggunakan kata “perempuan”. Alasannya, Wanita itu berasal dari kata want it yang artinya barang yang diinginkan sedangkan perempuan terdiri dari kata per-empu-an atau yang berarti yang dimuliakan. Sila dicek, semoga saya tidak salah. Kepada siapapun perempuan yang kau tujukan dalam tulisan itu, saya ucapkan selamat jatuh cinta dan jangan pernah takut jatuh cinta. Hehehe.

   Kategori kedua yang saya buka adalah cerpen, berhubung saya suka tulisan fiksi. Saya lalu menebak, ini tulisan rangkaian kata-kata tugas menulis. Semoga tidak salah soalnya tidak ada keterangan soal itu. Hati cukup berdesir membacanya. Oh iya, dari tulisan Kak Tari tentang blog Kak Nana saya berharap tulisan puitik Anda tidak sebatas di catatan kecil atau handphone. Ayo di-publish. Macam saya yang kelebihan percaya diri. Menurut saya, menulis di tempat umum merupakan satu cara merevisi diri sendiri. Malu mengirim tulisan ke media massa maka blog adalah pilihan terbaik, berharap ada yang begitu telaten membaca dan mengkritik. Walaupun sampai saat ini trafik pembaca blog saya sangat kurang. Hahaha. Well, practice makes perfect! Maka dari itu saya ikut grup Kelas Menulis Kepo.

   Lalu saya melihat isi kategori curhat-curhatan. Sebenarnya personality itu mudah dilihat dari curhatan seseorang. Tapi Kak Tari cuma menerbitkan satu laman di kategori ini dengan tema umum. Tak ada yang banyak mampu ku tangkap selain perempuan yang jatuh cinta pada masa lalunya seperti kebanyakan perempuan lainnya.

    Ohiya, apa maksud dari tulisan Kue Jahe? FYI, saya juga tidak menemukan biodata Kak Tari, foto bahkan social media. Sepertinya Kak Tari memang tipe yang misterius yang juga nampak dari tulisan-tulisannya. Saya hanya tahu, kak Tari kuliah di jurusan Sastra Indonesia. Semoga kita segera berkenalan ya.

Rabu, 02 September 2015

Lelaki Pemeluk Bumi

Karakter seseorang mampu kita tebak dengan fasih lewat tulisan-tulisannya. Belakangan saya baru menyadari hal ini, kemudian malu atas tulisan sendiri. Kira-kira apa yang terbaca oleh orang tentang saya ketika melihat tulisan saya yang agak-agak sendu dan curahan hati terselubung yang berlebihan. Agak bersyukur juga bisa ikut program kelas menulis #Batusekam. Setidaknya, saya bisa membaca pikiran orang terhadap tulisan-tulisan saya. Selain itu, yang menguntungkan dari #Batusekam adalah kau tidak hanya membaca tulisannya, tapi juga menebak seseorang dari pola-pola dan gambar yang dia pilih untuk menghiasi blognya.


Seperti misalnya blog milik Kak Enal. Boleh di cek : https://enalgattuso8.wordpress.com/ Membuka blognya langsung saja terlintas bahwa beliau pecinta tanaman. Terlihat dari gambar headernya dan tagline header (Jadikan Duniamu, Duniaku, Dunia Kita Menjadi Hijau). Setelah membaca beberapa tulisan Kak Enal saya langsung berkesimpulan kalau dia terbiasa menyajikan informasi dan data. Tulisan-tulisannya semacam hasil penelitian. Ohiya, apakah Kak Enal sering menulis di media? Sekali-kali bolehlah dikirim. Kak Enal cukup cakap menggambarkan keadaan atau peristiwa semacam jurnalis. Maaf ya, saya menebak kalau Kak Enal juga sepertinya pribadi yang agak kaku. Haha.


Saya sebenarnya lebih senang membaca hal-hal yang personal dari seseorang jadi saya langsung mengklik kategori personality sebagai pilihan pertama. Entah mengapa, saya belum benar-benar menemukan hal yang personal di kategori itu. Tapi, foto-fotonya keren, Kak. Semacam merentangkan tangan namun sekaligus memeluk. Saya curiga, Kak Enal ini salah seorang Bender. *krikkrik. Sayangnya saya tidak menemukan foto utuh yang menunjukkan wajah. Hanya dada, tiba-tiba saya lapar *eh. Hahaha.



Intinya, di blog Kak Enal, Anda dengan mudah mendapatkan informasi tentang tanaman dan daerah-daerah yang pernah dia kunjungi. Ceritanya cukup spesifik dan juga ada foto-fotonya. Soal tampilan blog, saya tidak berani bilang apa-apa berhubung blog saya juga cukup mengkhawatirkan. Ditunggu tulisan-tulisan berikutnya, Kak.

Jumat, 21 Agustus 2015

Pendongeng untuk Aufa dan Althaf


Kak Nana, anak ekonomi. For sure! Setelah beberapa kali bertemu dia di beberapa event, belakangan saya tahu kalau dia anak ekonomi. Kebetulan saya dekat dengan beberapa anak ekonomi dan tahu kalau mereka sering berinteraksi.
Nah, kali ini saya akan mereview blognya : matamatahari.tumblr.com dalam rangka mengikuti tema menulis review blog peserta Kelas Menulis Kepo setiap hari Senin dan Kamis. Dengan hashtag batusekam (baku tulis senin kamis).

Sebenarnya saya mau mereview blog hari Senin tapi karena kurang teliti, saya bingung sebenarnya siapa yang bernama Zia di grup Kelas Menulis Kepo. Zia, sama dengan nama adik mantan. Setelah saya perhatikan nama-nama yang mendaftar, baru ketahuan. Tapi saya mengeceknya waktu hari Kamis, ya sudahlah. Akhirnya saya mulai review blog yang dapat giliran di hari Kamis, 20 September 2015.

Saya membaca blog Kak Nana dan juga blog lainnya tentunya sejak bergabung di grup Line Kelas Menulis Kepo. Waktu itu, saya ingin mengikuti tantangan menulis blog sebulan. Saya harus mencari sesuatu yang bisa mendorong saya menulis (mungkin butuh jodoh pemberi motivasi). Akhirnya saya dibolehkan bergabung dalam komunitas menulis ini. Selalu ingin ikut kelas dan berkenalan dengan teman-teman tapi saya anaknya pemalu. Ya Tuhan, saya terlalu banyak curhat, bukannya review blog.

Membaca blog kak Nana itu sejak dia mengunggah tulisannya berjudul Gunung dan Kawanku. Kesan pertama membaca tulisannya ini yaitu amazed. Beliau dengan mudah membawa emosi para pembacanya. Semacam cerita fiksi tapi tidak basi. Melihat-lihat tulisannya yang lain (kemudian kepo), saya makin yakin kalau tumbr-nya semacam kumcer yang tidak membuat pembaca cepat bosan.  Deskripsinya cukup detail, menurutku ini salah satu ciri khas penulis sukses. Agak-agak sufistik, semoga saya tidak berlebihan menulis ini. Memperhatikan tulisan Kak Nana, saya yakin dia punya banyak referensi bacaan. Salah satunya mungkin buku-buku bergenre filsafat.

Tumblr kak Nana sederhana, saya suka. Kadang mata saya cepat lelah dan kurang fokus melihat terlalu banyak warna dan kelap-kelip di layar computer dan saya juga suka hal-hal yang simpel saja. Kalau boleh menyarankan ke Kak Na’, buatlah buku perjalanan. Eh, atau kumpulan cerpen saja, Kak. Saya, sebagai seorang penggemar novel, senang membaca tulisan Anda. Ohiya, saya juga kenal @dhilayaumil yang sempat di sebutkan dalam tumblr (kali ini bukan kepo, murni karena kebutuhan review). Kami bertemu di komunitas Ammacaki dan Klub Buku.

Kak Na’, saya betul-betul penasaran. Aufa dan Althaf itu nama apa? Nama orang atau calon nama anak?

Oke, sekian saja review dari saya. Semoga di lain waktu saya bisa berbincang lebih banyak soal referensi buku dengan Kak Nana. Pun dengan teman-teman kelas menulis lainnya. Tulisan kalian keren-keren. Err, maaf ya Kak Na’, saya tidak membaca keseluruhan serial Gunung dan Kawanku. Please, dibuatkan buku saja. Mungkin dilain waktu, saya ingin membuat cerita dongeng bersama Kak Na'. Haha


Sampai jumpa di review blog berikutnya. #batusekam

Rabu, 22 Juli 2015

Mudik dan Kapan Menikah

“Kapan menikah?” semacam pertanyaan menakutkan bagi orang berusia diatas 25tahun yang belum memiliki pasangan. Menjelang hari raya Idul Fitri, meme-meme pertanyaan itu berseliweran di media sosial. Meme-meme ini sangat variatif dan kreatif. Cukup bikin ngakak juga kalau di lihat-lihat.







Saat memasuki dunia maya mencari meme-meme lucu , saya bahkan menemukan situs ini; Jawaban Jitu untuk Pertanyaan “Kapan Kawin?” http://chirpstory.com/li/240177. Mungkin teman-teman boleh mencobanya di lain waktu. Laman ini sepertinya agak telat memberi info.


Rupanya, beberapa tahun belakangan ini mudik hari lebaran diidentikkan dengan betapa menakutkannya pertanyaan anggota keluarga tentang menikah. Mudik menjadi terasa berat bagi sebagian jomblo di Indonesia.  


Menurut KBBI daring, mudik adalah berlayar pergi ke udik atau pulang ke kampong halaman. Tradisi mudik ini turun temurun terjadi di Indonesia. Meskipun jarang terjadi di belahan dunia lain, namun masyarakat Indonesia selalu menantikan tradisi mudik ramai-ramai. Mudik memang hanya terjadi menjelang hari raya, membludak ketika hari raya Idul Fitri. Lalu lintas menjadi padat dan tak jarang menimbulkan korban. Bagi seorang perantau, momen ini adalah momen membahagiakan sepanjang tahun. Setidaknya ada alasan untuk pulang ke pelukan orang tua. Terkadang saya lelah menjadi perantau, lelah hidup sendiri. Haha.


Hari raya memang momen paling tepat untuk berkumpul bersama keluarga. Tidak hanya kumpul keluarga, bahkan reuni atau acara halal bihalal. Banyak bertemu dengan teman-teman yang sudah memiliki keluarga baru. Pun acara pernikahan membludak pasca hari raya.


Nah, saat-saat ini tentu saja adalah waktu menanyakan kabar masing-masing. Saya pikir, pertanyaan soal kapan menikah saat hari raya itu memang sejak dulu ada. Sebenarnya bukan hanya pertanyaan kapan menikah, banyak pertanyaan lain seperti kabar, pekerjaan, sekolah dan aktivitas sehari-hari. Jadi ya, nikmati sajalah pertanyaan-pertanyaan itu. Memang sih, tujuan membuat meme itu sekadar lucu-lucuan tapi ada juga yang keterusan galau (opini yang tidak valid oleh penulis).  Jadikan itu sebagai motivasimu agar lebih keras berusaha cari jodoh. Haha.


Rabu, 08 Juli 2015

Bebas Hambatan VS Penuh Hambatan

Berawal dari saya diterima bekerja di PT. Bosowa Duta Energasindo. Letak perusahaan ini di Jalan Ir. Sutami, Kompleks Pergudangan Lantebung, tepatnya disamping jalan tol Makassar. Hampir setiap hari saya mengeluh soal banyaknya badai rintangan menuju tempat kerja. Saya harus  berangkat pagi-pagi sekali jika tidak ingin terlambat, belum lagi dengan jalanan jelek yang harus saya lewati. Maklum, saya hanya mampu membeli sepeda motor. Tetapi, selama musim hujan saya harus menumpang di mobil teman karena jalanan yang sering saya gunakan itu macet parah dan banjir. Menggunakan mobil terasa lebih mudah dan cepat karena melewati jalan bebas hambatan. Ahh, seandainya saya memiliki foto jalan samping tol saat banjir, agak ngeri juga. Bisa memakan waktu hampir tiga jam untuk lepas dari jalan Ir. Soetami ini jika sedang musim hujan. Bagi saya yang di awal bekerja jarang menggunakan sepeda motor agak takut melewati jalan ini karena harus melaju bersama kendaraan-kendaraan berat seperti truk atau eskavator. Sering terjadi kecelakaan karena jalanan yang rusak menyebabkan kendaraan yang berat jatuh kesamping. Sekarang sudah terbiasa dengan keadaan itu.





Akses angkutan kota cukup sulit di jalan ini. Sebenarnya ada trayek angkutan kota yang melewati jalan ini yaitu angkutan kota berkode G, namun harus menunggu cukup lama karena jumlah angkotnya sedikit. Kadang harus menunggu setengah sampai satu jam lamanya. Akhirnya, hampir semua pegawai yang bekerja di sekitar jalan Ir. Soetami ini harus menggunakan kendaraan pribadi jika tidak ingin terlambat berangkat kerja.  Kendaraan pun membludak di pagi hari kerja dan sore saat pulang. Sebenarnya, jika tidak padat kita bisa menempuh jalan ini selama kurang lebih dua puluh menit namun dibeberapa titik jalan ini mengalami kemacetan parah. Perjalanan yang ditempuh menjadi selama kurang lebih 40 menit karena jalan yang rusak.

Dibeberapa tempat hanya bisa dijangkau oleh kendaraan roda dua, sehingga roda empat mau tidak mau harus melewati jalan tol sebelum memasuki jalan Ir. Soetami. Angkot pun harus melewati satu gerbang pembayaran tol saat keluar dari jalan ini tetapi mendapat kompensasi tidak membayar tarif tol. Dibagian jalan ini, tepatnya di jembatan yang dilewati tol, jalanan begitu sempit hingga hanya bisa dilewati oleh satu motor. Disinilah puncak kemacetan yang paling menggerahkan bagi pengguna sepeda motor. Belum lagi terowongan tol yang sedikit sehingga sering terjadi pelanggaran oleh pengguna sepeda motor. Hal itu menambah kemacetan lalu lintas.

Terlihat beberapa pengguna sepeda motor melanggar arah jalan.

 
Puncak kemacetan lalu lintas di jembatan



Sudah banyak keluhan warga yang masuk di Kementrian PU mengenai jalan samping tol ini. Namun, sampai saat ini kurang sekali tindakan nyata dari pemerintah menanggulangi jalanan yang rusak. Banyak pula warga yang mengeluhkan hal ini pada pihak pengelola tol  yaitu Bosowa Bina Marga dan PT. JTSE. Pada saat pembuatan frontage road, jalan Ir. Soetami memang menjadi tanggungan PT JTSE. Tetapi sejak tahun 2009, Kementrian PU telah menyatakan jalan ini sebagai jalan nasional. Terkait dengan perbaikannya, masih dipertanyakan apakah jalan ini menjadi tanggung jawab pemerintah kota atau pemerintah provinsi. Hal itu menyebabkan jalan ini begitu terlantar dalam jangka waktu yang cukup lama. PT. JTSE pun berusaha meminimalisir kerusakan dengan melakukan penimbunan di beberapa titik yang rusak. Jalanan ini mudah rusak karena sistem drainase yang buruk, air menggenang dan menumpuk ketika musim hujan melanda. Padahal, kendaraan berat lalu lalang sekitar jalan ini membuat jalan semakin mudah rusak.

Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan berita bahwa pemerintah akhirnya berencana memperbaiki jalan Ir. Soetami[1]. Dari berita tersebut, diketahui bahwa Pemkot Makassar dan PT. JTSE telah bersepakat segera menyelesaikan proyek pengerjaan jalan ini. Sekitar bulan Juni, saya melihat mulai ada pergerakan perbaikan di sekitar jembatan jalan tol. Semoga saja perbaikan jalan ini segera diselesaikan.

Saya pun agak risih sebenarnya dengan tarif tol yang selangit. Apalagi tarif tol Makassar baru-baru saja naik pada bulan Juni lalu. Agak kasihan melihat supir-supir truk harus membayar tarif tol yang mahal padahal mereka juga harus memikirkan biaya makan dan rokok. Tentu saja mereka lebih memilih lewat di samping tol yang tidak berbayar, serusak apapun jalannya yang penting masih bisa jalan. Tapi, selama bulan Ramadhan pengelola tol memberikan diskon sehingga tarif tol turun hingga Rp. 1.500.
Mari berdoa agar infrastruktur kota Makassar akan segera membaik.





[1] http://www.kabarmakassar.com/metro/jtse-janji-segera-perbaiki-jalan-samping-tol-sutami.html

Senin, 06 Juli 2015

Delusi Stockroom


                Menjamurnya ruang-ruang kreatif yang disokong oleh anak-anak muda lokal memberi nafas baru bagi Makassar. Kota ini mulai menjadi bahan pembicaraan di Indonesia beberapa tahun belakangan. Sejak dulu sentra pengetahuan, kreatifitas dan modernitas berfokus di daerah Jawa dan sekitarnya. Hingga saat ini mulai bermunculan anak-anak muda Makassar berprestasi bahkan sampai taraf internasional. Hal itu tidak luput dari gerakan-gerakan ekonomi kreatif yang berbasis DIY atau handmade. Salah satunya adalah Delusi Stockroom.

                Berawal dari saya yang sedang mencari buku The Catcher In The Rye karya J.D. Salinger terbitan Banana Publisher. Saya ke perpustakaan KataKerja tapi ternyata bukunya telah habis. Namun, sepertinya saya sedang beruntung maka pesanan orang lain beralih ke saya. Tiba-tiba, teman saya yang bernama Ekbes cerita bahwa kamu juga bisa mendapatkan buku yang sama di Delusi Stockroom. Delusi ini bermarkas di jalan Kumala, lanjutnya. Saya pun sigap mendengar karena dibandingkan Katakerja, Delusi lebih dekat dari tempat tinggal saya. Foto-foto Delusi Stockroom juga dipasang Ekbess di akun instagramnya. Makin penasaran lah saya.

                Akhirnya, pada hari Minggu tanggal 5 Juli malam saya memutuskan kesana. Hari itu sebenarnya saya tidak punya rencana sama sekali. Sore hari menjelang buka, saya kopdar bersama teman-teman Klub Buku Makassar di Mama Toko Kue dan Es Krim. Kemudian kami bergosip tentang penulis dan hal-hal lain yang umum dibicarakan perempuan. Eits, namanya memang klub buku tapi kami tidak semembosankan kutu buku yang sejak dulu terstigma di pikiran anak-anak muda yang katanya “gaul”. Terpikir lah saya untuk mengunjungi Delusi Stockroom.

                Setelah janjian bertemu dengan dua orang yang berbeda, tepat pukul Sembilan saya melaju menuju Kumala. Saya tidak tahu persis alamatnya, chat ke Ekbess pun tak di balas. Hanya bermodal gambaran toko disamping masjid saya beranikan diri mencari tempat itu. Ternyata tempatnya sangat mudah didapat. Setelah lampu merah Andi Tonro, belok kiri lalu jalan terus sampai bertemu masjid di sebelah kiri. Nah, Delusi Stockroom tepat disamping kiri masjid itu. Sekitar 200m dari lampu merah.

                Saya sempat malu-malu karena banyak lelaki yang nongkrong didepannya. Tapi, karena rasa penasaran yang tinggi, saya nyelonong masuk saja ke tempat itu. Akhirnya sang pemilik bertanya standar pertanyaan penjual pada umumnya,”Cari apa ki'?” Saya hanya tersenyum dan bilang hanya ingin melihat-lihat saja soalnya penasaran dengan cerita teman. Lama kelamaan kami cerita panjang lebar, saya bilang kalau tempat ini diceritakan oleh Ekbess. Rupanya si Ekbess baru saja meninggalkan tempat itu sekitar 15 menit sebelum kedatangan saya. Mungkin kami belum jodoh bersua.


                Delusi Stockroom ini dimiliki oleh Fajri dan sudah berdiri selama tiga bulan. Dia menjual kaos-kaos hasil sablonannya sendiri. Buku-buku jualannya kebanyakan tidak tersedia di Gramedia. Jadi, Delusi ini bisa jadi salah satu referensi toko buku alternatif di Makassar. Fajri mengaku memesan buku-bukunya dari luar Makassar. Banyak juga kawannya yang menitipkan barang-barang jualannya, seperti tas atau purse handmade, termasuk craft milik Ekbess. Dia juga memajang media-media alternatif tapi sebagai bahan bacaan, bukan jualan. Semacam zine Penahitam dan Kontinum. Lelaki gondrong itu bercerita bahwa stock barang-barangnya masih sedikit namun orang bisa memesan sesuai keingininan. Jika ingin tahu lebih banyak tentang toko ini, bisa di cek di Facebook Fanpage Delusi Stockroom. Semoga sukses terus ya!


Kamis, 02 Juli 2015

Pelangi-pelangi Alangkah Indahnya

Ebony and Ivory live together in perfect harmony
Side by side on my piano keyboard, Oh Lord, why don’t we?

We all know that people are the same wherever we go
There is good and bad in everyone
We learn to live, we learn to give
Eachother what we need to survive together alive

Saya selalu suka mendengar lagu berjudul Ebony dan Ivory yang dinyanyikan oleh Paul Mccartney dan Stevie Wonder ini. Lagu ini lamat-lamat terdengar didalam kepalaku saat membaca kontroversi legalisasi pernikahan sesama jenis di berita online. Pun marak di media sosial. Tagar #LoveWins masih menjadi tren topik sampai sekarang pun pemasangan gambar pelangi sebagai dukungan atas keputusan tersebut. Walaupun sebenarnya Argentina 5 tahun lebih dulu melegalkan pernikahan sejenis namun diyakini bahwa putusan Mahkamah Agung AS ini lebih berdampak ke seluruh dunia. Selain secara politis adalah negara adidaya, AS juga berpengaruh besar di ranah sosial atau media. Ofcourse, who rule the media rule the world. Tak heran jika media sosial menggembar-gemborkan soal peraturan baru ini.

Saya hidup berdampingan dan dekat dengan beberapa orang yang gay dan lesbian. Entah saya harus merasa jijik atau tertawa saat mendengar pacar teman saya mendesah erotis dari dalam kamar. Sementara mereka hanya berdua didalam kamar, lalu apa lagi yang terpikir oleh saya? Hidup bersebelahan kamar dengan seorang lesbian memang membuat saya agak waspada dan segan mengakrabkan diri. Dia adalah sahabat teman saya yang kebetulan dipanggil menemani saya yang sendiri dirumah berkamar tiga. Terlalu banyak kekosongan untuk dihidupi. Kehidupan yang kurang represi itu membuatnya sering membawa pacar menginap. Maka dari itu, saya tak jarang mendengar gedebuk-gedebuk perkelahian, tawa ataupun desahan. Ternyata saya kesepian dikamar sendiri. Bahkan, saya agak waspada bila berpakaian minim di rumah, padahal dia juga muhrim. Dia sepertinya berperan sebagai laki-laki untuk pasangannya. Pasangan lesbian standar pada umumnya, teman saya yang sangat tomboy dan pacarnya yang feminim.

Saya pun sempat nongkrong beberapa kali dengan para lesbian muda di KFC Ratulangi. Banyak dari mereka yang berkenalan dan pacaran via Facebook. Mereka punya komunitas di media sosial, tempat saling berbagi dan berkenalan. Bahkan saya juga mendengar cerita-cerita gila para lesbian dari mereka. Love is blind, darling! Mereka rela berkorban apapun demi cinta pada pasangannya.
Lain lagi dengan sahabat saya yang berjenis kelamin laki-laki. Dia seorang gay, tapi kelakuannya didominasi oleh sifat jamaliyah. Saya memperlakukannya pun bak perempuan, bermanja, bergelayut dan bergosip. Meskipun kadang, orang-orang bilang kami sebaiknya pacaran saja. Tapi, perlu kalian tahu, kami tak mungkin bersama karena selera kami “sama”. HAHAHA. Sahabat saya ini tak jarang menunjukkan foto kemesraannya ataupun percakapannya dengan pasangannya. Rasa jijik mungkin ada tapi dia sahabat saya yang super baik. Dia pernah bercerita masa kelam penyebab dia menjadi seorang gay sampai sekarang. Dari dia pula kuketahui soal situs-situs chatting sesama gay atau kelakuan-kelakuan seksual aneh para pasangan sejenis.

Dari cerita-cerita mereka, kuketahui penyebab seseorang menyukai sejenis kebanyakan karena trauma. Entah trauma masa kecil atau sakit hati karena pasangan lawan jenisnya. Sebenarnya saya ingin bercerita lebih detail, namun saya sudah berjanji tidak menceritakannya pada siapapun. Biarlah menjadi rahasia pribadi masing-masing para penyuka sejenis itu.

Saya dihadapkan pada masalah apakah saya harus menentang atau mendukung. Sungguh absurd memilih antara kebenaran dan kebaikan. Saya meyakini bahwa menyuka sesama jenis tidak dianjurkan oleh agama, namun bukankah setiap agama bernafaskan perdamaian dan kebaikan. Dalam hal ini, apakah mungkin saya mengecam sahabat yang baik, bahkan lebih baik dari mereka yang menyebut diri “normal”. Saya kira, LGBT terus mempertanyakan tentang toleransi sesama manusia. Saat ini, adanya peraturan legalisasi pernikahan sejenis dan menjamurnya komunitas LGBT secara terang-terangan menunjukkan keeksisan mereka. Dunia bukan lagi terdiri dari hitam dan putih, namun merah hijau kuning biru nila ungu pun turut meramaikan interaksi sosial masyarakat. Tidak hanya lelaki dan perempuan yang berpasangan, namun ada lesbian, gay, biseksual dan transgender. Bukankah warna-warna lebih indah bila disandingkan bersama?

Rabu, 01 Juli 2015

A CONFESSION


Apa saya lupa memberitahumu? Atau apa saya harus memberitahumu? Tidakkah kau perhatikan?

1. Warna favoritku, yang kau tahu setelah dua tahun sering bercengkrama denganku. Iya, hijau. Juga  merah.

2. Aku berani bertaruh, kau tidak pernah tahu soal makanan kesukaanku. Asal tahu saja, aku tidak suka makanan manis. Sepertinya teman-teman kantorku lebih tahu itu. Aku membenci  kecap. Bahkan kopi atau teh yang manis. Kopi adalah alasan bahwa hitam dan pahit itu termasuk kebahagiaan. Dulu, waktu kecil aku suka gado-gado. Sekarang pun, tapi benci pecel yang terlalu manis. Aku masih bisa mengecap rasa gado-gado kesukaanku waktu kecil. Sulit menemukan rasa yang sama sekarang ini. Aku juga suka sate, tapi tanpa bumbu. Sudah berkali-kali aku tekankan, aku tidak suka hal yang berlebihan. Mungkin karena itu aku bertahan denganmu. Cinta yang timbul tenggelam, tidak berlebihan. Sesederhana sebaris pesanmu di pagi hari, cukup.

3. Hmm.. belakangan aku perhatikan tulisan black flag di statusmu, juga di baju barumu. Dulu aku sering mendengarkan lagunya. Ya, meskipun satu saja, “Rise Above”. Haha. Aku ingat, aku pernah memberitahumu soal itu dan kau berkata remeh,”coba nyanyikan kalau memang suka”. Entah apa maksudmu, saya tidak pernah ragu soal selera musik saya sendiri. Semua orang punya selera masing-masing, bukannya ikut-ikutan. Kemudian, baru beberapa bulan lalu saya menceritakan bagaimana sejak kecil saya menyukai musik. Astaga, entah apa yang kita bicarakan selama 3 tahun. Aku yakin, dulu aku senang bersamamu membicarakan persoalan musik. Lantas, aku baru sadar, aku tak pernah bercerita banyak dan kau tak pernah ingin tahu. Sejak SMA, aku memang selalu belajar menyesuaikan diri dengan orang lain dan kesukaannya. Setiap kali kita dipanggil bernyanyi bersama, aku sedih. Ternyata kita tidak pernah seakrab itu, tidak pernah bernyanyi bersama di waktu-waktu kosong. Padahal semua orang tahu kita penggemar musik, kau bahkan pemain musik, aku cuma amatiran, haha. Semua orang juga yakin, kita punya lagu kesukaan bersama dan sering menghabiskan waktu bersama musik. Siapa pun yang membaca ini, saya tekankan kami tidak pernah seperti yang mereka pikir. Kami hanya membicarakan musik yang sedang kau dengarkan, sedang kau suka, sedang kau nyanyikan atau kau mainkan. Bukan lagu-lagu kesukaanku.  Sekarang aku ingin bercerita, aku suka WSATCC atau musik swing jazz tapi kurang referensi. Sejak kecil, setiap hari Minggu aku harus rela menonton MTV dibanding kartun favorit anak-anak jamanku. Kakak-kakakku memang terlalu mendominasi, terlalu malah dibandingkan orangtuaku. Aku cuma bisa nonton Detective Conan yang dikemudian hari mempengaruhiku menggemari cerita detektif. Juga nonton Ninja Boy, saya suka tertawa dan bercanda. Kau tidak tahu itu, kan? Tolong jangan tanya serial dragon ball, aku lupa dan jarang menontonnya. Lalu aku juga menggemari The Corrs, Dewa 19, Tatu, M2M dan lagu-lagu mainstream yang sering dinyayikan remaja perempuan. FYI, aku bukan fanatik Westlife seperti kebanyakan teman-teman perempuanku tapi saya cukup hafal beberapa lagunya. Aku tidak suka mengumpulkan poster Westlife di kamarku atau di binderku. Haha. Waktu SMP, saya juga penggemar LINKIN PARK. Astaga, sejak bertahun-tahun yang lalu aku selalu teliti mendengarkan permainan dj Mr. Han di lagu-lagu mereka, bukannya suara Chester. Beranjak SMA, referensi laguku mulai banyak. Saya penggemar sealbum System of A Down, entah kenapa aku selalu malu mengakui hal ini. Aku tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Seorang temanku juga membuatku fanatik dengan Blink182, mungkin karena itu saya juga suka Angel of Airwaves. Saya juga penggemar lagu-lagu Jepang tapi tidak pernah ingat lagu Jepang mana yang dulu sering kunyanyikan. Mamaku tahu pasti akan kegemaran anak-anaknya pada musik. Awalnya, aku dibelikan walkman berwarna biru merek Sony yang kubawa kemanapun. Dulu, saya juga sangat rajin mendengarkan radio. SMA, Mamak pun membelikan mp3 player yang hanya muat beberapa belas lagu. Untung saja sekolahku cukup maju, saya jadi rajin online dan men-download banyak sekali lirik lagu. Lalu meminta tolong pada kakakku agar di-print. Kakakku bahkan memberikan ordner untuk koleksi lirik laguku. Thanks to you, sis! Saat kuliah, aku sering sekali mendengarkan lagu-lagu heavy metal karena pacar kakak. Dia rajin belajar main gitar dengan andalannya si Joe Satriani atau band Metallica. Aku bahkan punya film dokumenter tentang musik metal di komputerku, Global Metal - since the era of BLACK SABBATH. Tapi ya gitu deh, susah hapal lagu metal. Paling cuma dengar nu metal or rapcore seperti Linkin Park atau Limb Bizkit. Haha. Aku juga dengar heavy metal tapi tidak juga, seperti Metallica or Deep Purple and Led Zeppelin. Sampai sekarang sebenarnya masih sulit membedakan jenis musik metal, semoga tidak salah, I tried my best! Waktu kuliah, I explore many songs in my life from mainstream to underground and alternatives. Most of them are mainstreams. Hehe. Mungkin kau juga tidak tahu aku suka L’arc en Ciel dan AKG. Aku suka macam-macamlah, everybody can talk about music with me. Meskipun saya tidak terlalu hapal musik indie lokal. Terlalu banyak genre musik  dan semua orang punya genre masing-masing. Tidak ada orang yang bisa men-judge secara pasti tentang bagus tidaknya selera musik seseorang. Kadang mereka hanya terlalu banyak diperdengarkan musik yang kurang bagus di ranah publik. Namanya juga “mainstream”. Kasihan.

4. Kak, kau tahu soal kebiasaanku ngopi? Tidak L. Kau tahu tentang sensitifnya teman-temanku di grup? Tahu tentang kegemaranku menggambar? Tahu tentang kebiasaanku ke pasar bersama teman-teman katakerja? Tahu tentang mengerikannya orang-orang di kantorku karena cinta, harta dan tahta? Tahu tentang cerita lucu soal sahabat-sahabat kesayanganku? Tahu tentang klub buku dan Ammacaki? Tahu tentang kebiasaanku yang jahil? Tahu tentang aku yang senang tertawa? Tahu kalau candaanmu garing buatku dan aku tertawa agar kau senang? Tahu buku apa yang sedang kubaca? Tahu tentang pola tidurku setiap hari? Tahu kalau aku sering rindu setengah mati? Tahu kalau aku hampir lupa rasanya rindu karena entah apa yang kurindukan? Tahu isi blogku? Tahu twitterku? Tahu saya foto dimana? Kau bahkan tidak peduli foto liburanku. Haha. Tahu kalau aku sedang sedih kalau menelponmu?

Ya ampun, aku tahu kau suka musik. Kau sering bercerita tentang-tentang lagu-lagu yang kau dengar dan mainkan. Aku tahu kuku-kukumu yang sering kotor padahal kau seorang pianis. Aku tahu cerita tentang teman-temanmu, aku berteman bahkan hampir sebagian dengan mereka di social media. Aku tahu cerita tentang supirmu yang selalu kau tertawakan. Aku tahu tentang kekesalanmu pada kegiatan-kegiatan yang kau ikuti. Kau selalu bertanya padaku. Tak pernahkah kau sadari, kau selalu bertanya dan bercerita apapun padaku. Bahkan kau bertanya berkali-kali seperti biasa, aku rela menjawabnya dengan sabar. Aku tahu makanan kesukaanmu, Lasagna. Kau juga suka sekali menggunakan baju hitam. Aku tahu kebiasaanmu yang aneh soal telinga dan kunci motor, cara makanmu yang berantakan, rambut putihmu yang keterlaluan, mandi yang kadang sekali untuk beberapa hari. Aku kadang hanya tahu saja apa yang kau lakukan saat terlambat atau lagu apa yang baru saja kau putar. Hanya tahu saja, entah. Aku tahu yang membuatmu terlambat, nonton atau main komputer atau ngobrol berkepanjangan. Benar, kan? Ah capek menyebutkan semuanya. Aku juga sadar kalau kau cukup banyak tahu tentang diriku tapi tidak sedalam yang kau kira.

5. Apakah sebenarnya aku ada di rencana masa depanmu? Kau tahu, aku ingin sekali bercerita tentang mimpiku sejak kecil. Malu! Mungkin keseringan membaca dan nonton serial detektif. Iya, serial Conan lah, QED, Kindaichi, Agatha Christie, CSI, Hawaii Five O, NCSI, Law & Order dan lain-lain. Aku ingin menjadi agen rahasia yang memecahkan kasus. HAHAHA. Sewaktu SMA, sempat terbersit, apa mungkin kalau masuk kedokteran bisa sekolah kriminologi atau tukang autopsi. Kemudian aku merasa, I really cant be a doctor. I cant! Haha. Kau saja sering salah diagnosa tentang diriku. Huh! Lalu saat kuliah, aku menemukan mimpiku lagi, bisakah aku mendaftar di Badan Intelijen Negara? Namun, selalu kuurungkan niatku mendaftar. Sampai suatu waktu, seorang teman bercerita bahwa dia sempat mendaftar kesitu. Wow Keren! Sayangnya, dia tidak lolos. Someday, aku harus mendaftar kesana.
Kau pikir, aku tidak punya mimpi sendiri tatkala ku tanyakan tentang dirimu dan mimpimu. Bukannya ingin mengikutimu, aku hanya ingin merencanakan. Apa salahnya berencana? Aku ingin menargetkan waktuku tentang mimpi-mimpiku dan rencana denganmu itu ada didalamnya. Mengerti? Tidak? Jadi, aku ingin mencocokkan waktuku menyelesaikan mimpiku dan waktumu menyelesaikan mimpimu. Kau tahu, bertemu di ujung jalan.  And I want you to be with me whenever I fall from my dream. But I cant even find u now.
Tapi, masalahnya, kau bahkan tidak punya rencana untuk hidupmu sendiri. Kau memang tipikal anak yang manja, terbiasa diurusi oleh Tante dan Ibumu. Terkadang, kau bahkan tidak becus mengerjakan pekerjaan lelaki pada umumnya.

Kau rajin menelepon keluargaku, kau datang kalau mereka mengunjungiku, kau menemaniku membelikan semua pesanan mereka. Kau juga datang ke Sorowako. Kau rajin membelikanku barang, meskipun dengan wajah kusutmu yang tidak ikhlas. Kau tahu, aku benci wajahmu yang tetiba perhitungan. Padahal aku tidak pernah meminta dibelikan. Kau tetiba saja menawarkan, lalu berpikir. Anak yang aneh! Tapi kau tetap membelinya. Terimakasih! Kau selalu tahu kalau aku marah atau kesal, kau datang membawa buku atau coklat. Belakangan ini, kau tidak pernah lagi memberiku coklat. Sedihnya.
Aku tidak pernah melarangmu bepergian dengan siapapun dan kemanapun, selama hal itu masih positif. Aku bahkan menelpon tengah malam mencari tahu kabarmu karena keluargamu meneleponku. Jadi, jangan terlalu merasa! Haha. Sudah pernah kukatakan, tidak apa-apa kau terlambat asalkan kita tidak dalam keadaan terburu-buru. Ah, kadang aku benci dan menangis kalau kau membuatku menunggu sampai tiga jam. Membuang-buang waktuku. Kau juga jarang sekali membanggakanku, terkadang hanya senyum remeh kalau aku menceritakan sesuatu tentang diriku. Kau juga tidak menyimpan fotoku di telepon selularmu, saya juga sih. Hehe. I treat u the way u treat me, honestly. Sekarang ini, aku tak bisa mengingat kenapa aku mencintaimu. Apa karena aku hanya terbiasa atau karena takut sendirian. Tapi, sama saja! Aku tetap sendiri kok.
Aku bahkan jarang sekali meminta bantuanmu, jarang memintamu mengantarku kemana-mana, jarang bertemu denganmu. Bisakah sekali saja kau tidak terlambat kalau kita berjumpa? Bisakah kau bersemangat sedikit tiap ingin bertemu denganku? Bisakah aku merasa spesial?
Kau selalu saja memintaku menontonmu didepan panggung, tapi entah mengapa kau tak pernah datang melihatku di panggung.

Kita seiman, itu yang paling penting buatku. Kau mungkin paket yang komplit. Tapi aku bermimpi bersama dengan orang biasa saja tapi melengkapiku. Sederhana tapi tahu cara menghargai orang lain serta pekerja keras. Keluarga kecil yang bahagia, sesederhana itu.

Sebenarnya ini adalah pengakuan tentang aku yang terlalu mencintai diri sendiri. Sejak dulu, aku punya pemahaman kalau mencintai bukanlah hasrat ingin mendominasi atau memiliki. Selalu saja cukup dengan kau mencintaiku apapun caramu. Tapi, kali ini aku ingin sekali merasakan perasaan yang tulus, perasaan-perasaan yang mengasihiku tanpa beban.  Perasaan terlindungi dan diperhatikan secara mendalam. Tidak perlu setiap waktu. Aku tidak pernah suka yang berlebihan. Aku ingin ada seseorang yang mengetahui tentang diriku, hal-hal kecil tentangku, mimpi-mimpiku, tempatku berbagi sampai aku tak perlu mengetikkan tulisan ini.


Aku sedang egois, mencintai diriku sendiri dengan cara mengharapkan orang lain yang bisa mencintaiku sepenuhnya. Kau yang baik dan aku yang egois.

Kamis, 28 Mei 2015

Eks Tapol



Buku               : Mati Baik-Baik, Kawan.

Pengarang       : Martin Aleida

            Membaca Martin Aleida semacam tenggelam di babak kelam Indonesia. Dengan fasih dia menjelaskan perasaan-perasaan yang teraniaya di Peristiwa ’65. Tema besar buku ini adalah kesedihan dan si pengarang dengan cerdiknya membuat kita geram sekaligus sedih. Cerita-cerita yang membuat saya mencoba mencari sisi-sisi lain dari sejarah Indonesia.
            Saya kira, Martin mudah membuat kita seolah-olah mengalami kejadian yang ditulisnya karena dia juga salah satu saksi sejarah kekejaman masa ini. Dia juga pernah di penjara karena keterlibatannya dengan Partai Komunis Indonesia. Cerita-cerita Martin juga sebenarnya tidak terlalu menjadi misteri bagi kita, tapi dia tetap lihai membuat kita terus membaca tulisannya.
            Di beberapa cerita terlihat sisi spiritual Martin, seperti di Dendang Perempuan Pendendam dan Shalawat untuk Pendakwah Kami. Namun kesan tentang pelaku-pelaku di masa 65 tetap terasa. Saya teringat masa-masa terkenalnya program bertajuk Rahasia Ilahi di dunia pertelevisian Indonesia. Dendang Perempuan Pendendam pun bergenre sama. Tentang seorang perempuan yang tak pernah ikhlas memaafkan seseorang yang telah meninggal hingga kuburan orang tersebut takkan pernah cukup lapang. Sedangkan Shalawat untuk Pendakwah Kami bercerita tentang seorang lelaki dengan titel haji di puja-puja orang-orang disekitarnya. Cerita favorit saya adalah Ode untuk Selembar KTP. Uang memang tidak pernah terlalu banyak untuk sebuah prestise atau kelegaan. Tentang seorang perempuan yang ingin lepas dari kengerian menjadi seorang eks tapol, meski harus bertahun-tahun menabung.
            Cerita yang paling gila di buku kumpulan cerpen ini adalah Ratusan Mata di Mana-mana. Ini merupakan cerpen yang mengandung amarah serta protes. Bentuk protes selama dia bekerja di sebuah koran ternama di Indonesia. Benar-benar di luapkan secara pribadi oleh sang pengarang. Dia tidak ragu menyebut nama dan hal-hal yang tidak disukainya, termasuk sang legenda, Goenawan Muhammad. Disini juga dia bercerita sedikit tentang pengalamannya sebagai eks tapol.

Rabu, 06 Mei 2015

Menulis adalah Kekuasaan

Menulis adalah cara melepaskan diri dari kegilaan, kata Agus Noor. Hujan memang sedang gila-gilaan menggedor loteng Rumata Art Space pada hari Minggu lalu, 3 Mei 2015. Tapi, itu tidak menyurutkan para jiwa resah ingin menulis untuk menyimak diskusi Kepenulisan dan Aktivisme. Hari itu, Kak Jimpe, Kak Ilham dan Kak Bobby menceritakan kisah mereka tentang perpustakaan yang mereka kelola, dipandu oleh Kak Abe. Terimakasih kepada Rumata dan Revius yang mengadakan acara keren ini dan menginspirasi saya membuat tulisan ini. Acara ini juga sekaligus sebagai pre-event MIWF2015 yang tak lama lagi berlangsung. I can’t hardly wait!
Kampung Buku adalah perpustakaan sekaligus rumah bagi Kak Jimpe dan keluarganya. Kebanyakan aktivitas mereka memang berpusat disitu. Awalnya Kak Jimpe bersama teman-temannya sepakat mendirikan Komunitas Tanahindie pada tahun 1999. Aktivitas Tanahindie berkonsentrasi pada diskusi atau kajian tentang kota. Lalu Kak Jimpe pun aktif di Ininnawa beberapa tahun setelahnya. Ininnawa sendiri mirip dengan Tanahindie namun lebih berpusat pada kegiatan penerbitan lokal. Kak Jimpe berceritera bahwa Ininnawa sudah menerbitkan sekitar tiga puluhan buku. Ininnawa hadir untuk menjawab keresahan mereka atas kekurangan referensi buku. Dahulu, mereka hanya bisa menitip buku dari teman-teman yang ke Jawa. Apalagi banyaknya buku-buku berkualitas tinggi namun dalam teks bahasa inggris. Ininnawa mencoba menerjemahkan buku-buku tersebut dan menerbitkannya secara independen. Selain bentuk fisik, Ininnawa juga mendirikan website MakassarNolKm.com sebagai wadah jurnalisme warga. Siapapun bisa mengirimkan tulisannya, khususnya tulisan tentang kota termasuk tentang kuliner bahkan wisata kota.
Setelah Kak Jimpe, ada Kak Ilham yang bercerita dengan penuh kesabaran soal Rumah Baca Philosophia. Berdiri sejak 2008 dan diilhami oleh Kampung Buku pun Kedai Buku Jenny. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan didirikannya Philosophia ini. Mereka agak cemas dengan minat baca masyarakat yang sangat kurang. Philosophia berusaha untuk mebangkitkan basis budaya intelektual di Makassar dengan membuka ruang baca yang mudah dijangkau. Butuh perjuangan yang cukup keras dan panjang agar Philosophia tetap bertahan sampai sekarang dengan perekonomian yang cukup sulit. “Alhamdulillah, Rumah Baca Philosophia memiliki koleksi sekitar 5000 judul buku,” Kata Kak Ilham. Kebanyakan mahasiswa yang sering berkumpul disana adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi jadi koleksinya pun kebanyakan bergenre Ekonomi. Sehingga banyak mahasiswa yang menghabiskan waktu mengerjakan skripsi atau tesis disana. Selain kajian dan diskusi, Philo, begitu sapaan singkatnya, juga sering mengadakan bedah film atau buku. Baru-baru ini mereka juga menambah koleksi buku anak-anak dan memanggil anak-anak tetangga datang dan belajar disana.
Lain halnya dengan Kedai Buku Jenny, inspirasi untuk mendirikan Kedai Buku Jenny berasal dari keseringan menonton acara musik saat mereka sedang mengejar gelar S2. Kak Bobby serta temannya berusaha mengkolaborasikan buku dan musik maka lahirlah Kedai Buku Jenny. Nama Jenny sendiri berasal dari nama band favorit mereka. Selain berjualan buku, mereka juga berjualan cd-cd musik dan memasang beberapa art work di kedai mereka. Tagline mereka; Almost Book Shop Barely Art Gallery. Nah, setiap bulan mereka mengadakan KBJamming. Acara ini mereka adakan karena ingin menonton gig musik sedangkan mereka kekurangan info mengenai gig-gig yang ada di Makassar, alhasil mereka membuat dan mengundang band-band lokal untuk bermain di tepat mereka. Di KBJ juga ada Malala Library. Nama Malala di ambil dari nama seorang aktivis perempuan yang di tembak mati karena memperjuangkan haknya atas pendidikan dan juga mulai menerbitkan buku bagi teman-teman yang kurang percaya diri menerbitkan tulisannya.
Menyenangkan sekali bahwa banyak anak Makassar yang tetap peduli pada nafas-nafas kepenulisan dan literasi di antara kesemrawutan modernitas saat ini. Perlakuan zaman seakan-akan menggiring kita menjadi tak acuh dan kembali ke zaman jahiliyah. Semoga nafas-nafas ini terus berhembus menghangatkan pikiran dan perasaan kita. Kak Jimpe dan Kak Bobby adalah senior saya di kampus, tepatnya jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Saya dan teman-teman saya sejak maba memang sangat mengagumi mereka. Semoga orang-orang seperti mereka selalu hadir mengimbangi zaman dan memberi inspirasi.
Kak Abe pun mulai menggiring diskusi tentang aktivitas menulis para pembicara. Pada awalnya Kak Jimpe senang menulis puisi, lama kelamaan akhirnya sangat tertarik di bidang jurnalisme. Adapun penelitian Kak Jimpe akhirnya di terbitkan menjadi buku oleh Ininnawa. Sedangkan Kak Bobby sendiri bercerita dengan semangat pengalaman menulisnya sejak kecil. Dia sangat senang mengarang waktu SD tapi kemudian minat menulisnya itu hilang pada saat SMP dan SMA. Di saat kuliah, dia pun bertemu dengan seseorang yang sangat memotivasi dia untuk menulis, seseorang yang akhirnya melahirkan anak-anaknya. Awalnya mereka selalu saling berkirim surat, akhirnya Kak Bobby merasa bahwa sepertinya dia harus merasa berutang tulisan dulu pada seseorang agar dia tergerak untuk menulis.  Kak Ilham sendiri menceritakan pengalaman menulisnya yang juga berkaitan erat tentang seorang perempuan.
Saya tiba-tiba teringat tentang cerita Loro Jonggrang yang memberikan syarat membangun seribu candi dalam semalam kepada Bondowoso. Goenawan Muhammad dalam bukunya sempat bercerita tentang legenda itu dan berangan-angan bahwa mungkin Bandung Bondowoso membisiki Loro Jonggrang,”Ada hal yang mustahil yang membuat kita memilih dan berbuat.” Seseorang bisa tergerak untuk menulis hanya karena kecintaannya pada sesuatu, entah itu kekasihnya atau pun tanah kelahirannya. Seorang peserta diskusi pun sempat menceritakan kisahnya dalam dunia kepenulisan. Tidak ada alasan untuk tidak menulis, seorang ibu dengan kesibukan rumah tangga pun tetap bisa eksis menulis.
Hari ini, kita bisa berbahagia karena cukup banyak media yang mampu mewadahi kita untuk menulis dan bisa memamerkan karya kita didepan khalayak. Media-media besar pun mulai melirik penulis-penulis muda. Di Makassar sendiri ada kolom literasi Tempo atau Revius yang selalu senang menerima tulisan anak-anak muda Makassar. Bahkan blog pun bisa menjadi wadah paling praktis untuk menulis.
Saya sendiri sebenarnya senang menulis, namun rasa malas kerap menghampiri. Saat SD, saya juga sangat senang mengarang. Teman-teman saya sering heran jika saya bisa mengarang yang panjang. Kemudian masuk SMP, saya juga seorang reporter di buletin sekolah. SMA pun begitu, kami memiliki majalah dan saya bekerja sebagai reporter bahkan sempat mengikuti Diklat Jurnalistik Abu-Abu yang diadakan UNM. Sejak dulu, saya memang menyenangi dunia jurnalistik, Ketika kuliah, saya sempat mengikuti pengkaderan Identitas namun terhenti karena tidak sanggup berkompromi dengan waktu. Waktu SMA, saya juga sempat menulis tangan beberapa cerita-cerita karangan saya, juga puisi-puisi. Memasuki waktu kuliah adalah masa transisi yang cukup membingungkan. Saya tergiur dengan kesenangan jalan-jalan dan kurang menghabiskan waktu membaca dan menulis. Masa modern menawarkan begitu banyak pilihan dalam menghabiskan waktu dan berusaha menstigma kita bahwa itu adalah kebahagiaan.

Mungkin dengan tipikal tertutup seperti saya, menulis adalah pilihan yang baik. Kita bisa menuangkan perasaan-perasaan kita tanpa perlu khawatir tentang apapun. Menulis adalah kekuasaan paling absolut dari dalam diri seorang manusia. Menulis pun adalah cara yang mudah untuk mempersuasi orang lain dalam kebaikan. Ayo menulis!

Selasa, 05 Mei 2015

Morning Overture

Aku tak pernah lupa
Saat itu air hujan dan matahari sedang berlomba menyambut pagi.
Antara menyelami lautan dengan cahaya
Atau tenggelam melebur bersama ikan-ikan yang siap memangsa.
Sementara kita berenang di lini masa.
Saling menyapa sambil menikmati kegigihan mereka
Berkirim pesan melalui sentuhan kaki langit
di antara remang-remang mendung dini hari
Saat terdamaiku, melihat ucapan semangat darimu di genggamanku.

Kutukan

Seperti kutukan.
Aku membiru, bimbang dalam diam
Sementara hatiku semacam meriam.
Kau mempekerjakan anggota tubuhmu secara bebas dan bahagia,
yang tanpa sadar menyulut sumbu-sumbu terpendam


Sebenarnya,
Cinta memang kurang ajar, kan?!
Entah bagaimana menjinakkan dan membijakkannya.

Senin, 20 April 2015

Rindu


Hanya kepada langit biru, rindu berlindung
menabuh kesetiaan para pecandu
bergelung menunggu perjumpaan dengan kekasihnya, laut
sesungguhnya mata berair karena kilatnya yang silau

Rabu, 25 Maret 2015

Gelombang Alfa Penuntun Kearifan



SUPERNOVA : GELOMBANG
Karya Dewi Lestari
Penyunting : Ika Yuliana Kurniasih
Yogyakarta: Penerbit Bentang (PT. Bentang Pusaka)
Cetakan Pertama, September 2014
482hlm; 20cm.
ISBN 978-602-291-057-2

Blurb :

Sebuah upacara gondang mengubah segalanya bagi Alfa. Makhluk misterius yang disebut juga Si Jaga Portibi tiba-tiba muncul menghantuinya. Orang-orang sakti berebut menginginkan Alfa menjadi murid mereka. Dan, yang paling mengerikan dari itu semua adalah setiap tidurnya menjadi pertaruhan nyawa. Sesuatu menunggu Alfa di alam mimpi.
Perantauan Alfa jauh membawanya hingga ke Amerika Serikat. Ia berjuang sebagai imigran gelap yang ingin mengubah nasib dan status. Pada suatu malam, kehadiran seseorang memicu Alfa untuk menghadapi ketakutan terbesarnya. Alam mimpinya ternyata menyimpan rahasia besar yang tidak pernah ia bayangkan. Di Lembah Yarlung, Tibet, jawaban mulai terkuak.
Sementara itu, pencarian Gio di Tio Tambopta menemui jalan buntu. Pada saat yang tak terduga, pria yang pernah menemuinya di Vallegrande kembali muncul. Pria itu mengarahkan Gio ke pencarian baru. Petunjuknya adalah empat batu bersimbol, mempresentasikan empat orang, dan Gio ternyata adalah salah satu dari mereka.

Review :

“Selapis kelopak mata membatasi aku dan engkau
Setiap napas mendekatkan sekaligus menjauhkan kita
Engkau membuatku putus asa dan mencinta
Pada saat yang sama”

Seperti biasa, Dee selalu memulai bukunya dengan puisi yang khidmat.

Setelah penantian panjang selama dua tahun sejak serial Supernova keempat lahir, akhirnya Gelombang terbit juga. Salah satu science fiction Indonesia yang dinanti-nanti penggemarnya. Dewi Lestari, sang pengarang, dengan apik membuat para pembacanya tersihir semacam aku yang tersihir oleh Alfa, tokoh dalam edisi Gelombang ini. Asiknya, edisi Gelombang ini bisa dipesan dengan tanda tangan Ibu Suri Dee didalamnya. Masih mengikut dengan model sebelumnya, tiap edisi terbit dengan sampul berwarna hitam dengan logo khas yang mewakili masing-masing serial.

Novel ini diawali dengan cerita tentang Gio yang telah ada di serial pertama Supernova.
Gio yang tak kenal lelah mencari Diva, mataharinya. Gio, merengek meminta pengampunan cinta atas kehilangan.

“Kabut yang tak tergenggam. Dan, aku telah jatuh cinta habis-habisan”.(hlm. 8)

Diantara pencariannya itu, Gio bertemu dengan seseorang misterius yang pernah ia temui beberapa waktu silam. Orang itu seakan tahu dimana Diva dan mengatakan banyak hal aneh tentang batu dan pencarian.

“Ada banyak hal yang tidak tertangkap oleh mata kita. Bukan karena mereka tidak ada. Melainkan, kemampuan kitalah yang terbatas untuk melihatnya.”(hlm. 13)

Seperti buku-buku sebelumnya, satu buku mewakilkan satu tokoh yang hidupnya dijabarkan secara detail. Kali ini tentang seorang yang begitu menawan hati, Alfa. Sejak kecil Alfa telah menunjukkan keistimewaannya. Tak salah jika orangtuanya memberi nama Thomas Alfa Edison dan dikenal dengan panggilan Ichon. Ah ya, saya sangat suka penamaan tokoh-tokoh ini. Saudara-saudara Alfa bernama Abert Einstein dan Sir Isaac Newton.

Hidup penggemar serial Kho Ping Hoo ini berubah drastis semenjak upacara pemanggilan roh tepat sehari setelah ulang tahunnya. Tiba-tiba dukun-dukun berdatangan kerumah mereka ingin menjadikan Ichon sebagai muridnya. Sementara Ayahnya yang berharap besar terhadap Ichon harus segera mengambil keputusan hiijrah ke Jakarta walau dengan biaya yang pas-pasan.

Tidak lama berada di Jakarta, Ichon harus bertaruh dengan hidupnya lagi di Amerika Serikat. Sebagai imigran gelap yang tiap hari berjudi nyawa, Ichon berusaha keluar dari kubangan lumpur hidup kumuh di Amerika sana. Ichon akhirnya lulus disalah satu kampus Ivy League. Disana, Ichon diperkenalkan cara memperoleh banyak uang melalui Wall Street hingga akhirnya sukses besar.

“So stand out from the crowd when you have a chance. Grab their attention, right then and there. They look for a man of action. So, show them that.” (hlm. 188)

Namun, Alfa mengalami insomnia akut. Tidur baginya adalah bertarung dengan nyawa. Akhirnya Alfa bertemu perempuan cantik yang membuatnya tertidur dan hampir mati. Setelah itu, Alfa pun mulai mempelajari mimpi-mimpinya disebuah pusat kajian mimpi dan mengantarkannya ke Tibet.

Kali ini, saya benar-benar jatuh cinta pada tokoh ciptaan Dee. Saya selalu suka pada musisi seperti Alfa, sang gitaris handal pecinta Fender. Saya juga seorang insomnia akut yang suka mencuri waktu 15 menit untuk tidur. Buku ini membawa saya terlalu larut dalam perjalanan emosi Alfa yang terus mencari tahu tentang dirinya.

Meski sama dengan pola sebelumnya, setiap serial membuat kita tidak bosan menunggu edisi berikutnya. Gelombang seperti membuka tabir besar akhir dari serial ini. Tiap buku sebenarnya punya cerita yang bisa berdiri sendiri namun akan sulit memahami jika tidak membacanya dari awal, apalagi di Gelombang ini memunculkan dua tokoh penting dari Supernova sebelumnya.

Buku-buku Dewi Lestari selalu sarat pengetahuan. Penuh dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam kehidupan layaknya filsuf. Gelombang menceritakan tentang adat dan kosmologi Batak yang menarik. Ada juga tentang penjelajahan mimpi, lucid dream dan sedikit mengenai kebudayaan Tibet. Saya kira, Dee melakukan riset yang panjang sebelum menulis bukunya. Jadi, bila ada yang tidak suka dengan ceritanya, setidaknya kita masih bisa menikmati selipan-selipan pengetahuan didalamnya. Itulah kenapa Dee juga merupakan salah satu penulis science –fiction yang sukses. Dia juga Dewi Cupid yang hebat. Hehe.

“I’m the eye in the sky..looking at you.. I can read your mind.” (hlm. 465)

Rabu, 18 Maret 2015

MEMBACA

selalu ada pertanda yang dapat ku baca di bagian tubuh seseorang
entah itu mata, mimik wajah, garis-garis tangan atau tungkai

suatu hari, aku jatuh di sungai bidadari
Jaka Tarub yang menyadarkanku.
Aku membantunya mencuri selendang Nawangwulan

aku mengagumi kuku-kuku, siku, dagu, pun bahu milik Nawangwulan
setiap ada sekelebat berkat mencegat
takkan ku tunggu lama menafsirkan gerak gemulai tubuhmu, Nawangwulan.

kukira alam telah lama berkonspirasi perihal ini
perihal aku yang menebak masa lalu dan masa depan orang lain
pun perihal kau sang dewi dan tanpa arti yang sanggup kutangkap

angin selalu menyuruhku mengejarmu
katanya, tidakkah aku penasaran dengan ketidaktahuanku?
ketidaktahuan yang makin menjadi-jadi saat rambutmu dikibaskan olehnya

aku selalu beralasan rambutmu menghalangi pembacaanku.
tiap helainya seperti perisai hitam kokoh menggelungmu
dan angin menghempaskan keraguanku atasnya,

kata ular, aku harus menyentuhmu
tapi aku tahu takkan ada kejutan listrik,
reaksi yang selalu muncul setiap tanganku menyentuh kulit asing
Bahkan kau mungkin melihatku seperti bisa mematikan

Lalu burung beo menyuruhku memanggilmu
Maaf beo, bukannya aku merendahkan
tapi kerendahan hati yang ahli menaklukkan simpati
bukan omong besar yang membeo

Tiba-tiba roh Nawangsih melayang-layang
Meronta atas hidupnya yang belum juga mendiami janin
Dia berbisik, jatuh cinta-kah atau penasaran-kah aku?
aku terhentak dan merutuk sekaligus merindu

Nawangwulan, yang selamanya tak mampu ku baca.

Selasa, 17 Maret 2015

IL POSTINO


IL POSTINO
Antonio Skarmeta
Penerjemah : Noorcholis
Penerbit Akubaca
Jakarta, September 2002
171 hlm

Blurb     :

Bagai sekuntum bunga pada wanginya
Aku terikat pada kenangan samar tentangmu.
Aku hidup dengan perih yang mirip luka.
Jika kau sentuh aku, kau kan merusakku hingga mustahil diperbaiki.

Review :

Kukira Antonio Skarmeta tergila-gila pada puisi-puisi Pablo Neruda. Dia mengabadikan Neruda dalam novelnya ini meskipun tidak secara detail. Maksudku, siapa yang tidak jatuh cinta pada Neruda? Dia sering menulis puisi-puisi yang berbau politis sekaligus surealis dan membuatnya menjadi pemenang Nobel. Puisi-puisi cinta dan erotiknya pun memikat.

Novel ini berlatar kisruh politik di Republik Chile dimana Pablo Neruda sempat di calonkan menjadi presiden. Neruda yang juga seorang komunis akhirnya memberikan suaranya kepada Salvador Allende. Namun, tokoh utama sebenarnya bukan Pablo Neruda melainkan seorang bocah yang bekerja sebagai tukang pos bernama Mario Jimenez.

Saya sempat menduga-duga bahwa Antonio Skarmeta sebenarnya menggambarkan kekagumannya pada Pablo Neruda lewat Mario Jimenez.

Selalu begitu setiap hari: dimulai dari pertemuan amat singkat dengan si penyair hingga matahari surut dan tiba waktu tidur, sang tukang pos akan selalu membawa-bawa buku Elementrial Odes-nya dengan harapan suatu hari kelak mampu mengumpulkan keberanian yang di perlukan. (hlm. 25)

Demi kesetiaan mutlaknya pada sang penyair, ia bersumpah tidak akan bunuh diri sebelum membaca lembar demi lembar dari tiga ribu halaman buku yang dihadiahkan kepadanya. (hlm. 50)

Sebagai tukang pos, Mario Jimenez hanya bertugas mengantarkan surat pada satu orang, yaitu Pablo Neruda. Kebahagiaannya membuncah ketika tahu tugasnya walaupun tidak dibayar sesuai dengn kesulitan pekerjaannya itu. Hari demi hari dia selalu berusaha membuka pembicaraan dengan sang penyair. Sang penyair yang notabene seorang yang tidak acuh tentu saja merasa terganggu dengan si bocah. Namun pada akhirnya mereka akrab sampai Pablo Neruda di nobatkan menjadi wali mempelai saat pernikahan Mario dengan Beatriz Gonzales.

Saat pemilihan Presiden pun Mario tetap mempertahankan kebaikan nama Neruda meskipun Neruda harus meninggalkan kota mereka karena tetek bengek arus politik di Chile. Hampir semua orang didaerahnya pun memilih lawan politik Neruda karena merasa bahwa penyair tidak pantas menjadi presiden.

Neruda adalah penyair besar. Mungkin terbesar dari sekalian penyair malah. Tapi jujur saja, Bapak-bapak, tak bisa saya bayangkan beliau sebagai presiden Chile. (hlm. 52)

Terinspirasi dari Neruda, Mario pun mulai mebuat puisi-puisi indahnya sendiri dan mempersembahkannya pada perempuan yang dicintainya. Mario juga kerap membacakan puisi Neruda untuk Beatriz pun didepan khalayak ramai pada acara politik-kebudayaan Partai Sosialis San Antonio. Tak ada keraguan bahwa perempuan manapun akan meleleh dibacakan puisi Neruda, aku pun.

“Tidak, Ibu! Ia menatapku dan kata-kata itu meluncur dari mulutnya bagai burung-burung.” (hlm.61)

Telanjang engkau sesederhana sebelah tanganmu,
halus, duniawi, mungil, bulat, tembus pandang, gurat apel, lingkar bulan
Telanjang engkau sehalus terigu.
Telanjang engkau bagai malam di Kuba yang biru
Merambat sulur-sulur anggur dan mengerjap bintang-bintang di rambutmu.
Telanjang engkau begitu indah dan begitu kuning
bagai musim panas di gereja bersepuh emas.
(hlm. 76)

Mario dan Beatriz pun akhirnya menikah setelah ditentang sekuat tenaga oleh Ibu mempelai wanita. Sesuai janjinya, Pablo Neruda menjadi wali mempelai. Setelah itu, Pablo pun berangkat ke Perancis karena ditunjuk oleh Presiden Salvador Allende menjadi duta besar disana.

Sang penulis novel ini, Antonio Skarmeta, dengan apik menceriterakan kehidupan Mario Jimenez dan istri sampai mereka mempunyai anak bernama Pablo Neftali. Di sela-sela itu, Antonio tetap menyertakan kondisi politik di Chile. Sampai akhirnya Presiden Allende dibunuh dan Pablo Neruda pun menjemput kematiannya.

Aku pulang ke laut dibungkus langit,
kesenyapan antara dua gelombang
menciptakan ketegangan wingit,
kehidupan mati, darah berhenti
lalu gerak baru mengembang
dan suara ketidakberhinggaan kembali kumandang
(hlm. 142)

Il Postino telah diterjemahkan lebih dari 25 bahasa. Terjemahan bahasa indonesianya bagus, pun sampul dengan kutipan puisi cukup menarik.
Novel ini sangat saya rekomendasikan bagi para pecinta puisi dan penyair di dunia. Kalimat-kalimat yang menggambarkan tentang puisi begitu menggugah.

“Bukan, Pak. Puisi itu tidak aneh. Yang aneh adalahg apa yang saya rasakan ketika anda mengucapkannya.”(hlm. 33)

Beberapa puisi Pablo Neruda pun dicantumkan dalam novel ini. Seperti saat perselisihan Beatriz dan ibunya mengenai Mario Jimenez.

“Aku menyukai cinta para pelaut yang mencium lalu pergi. Mereka tak pernah meninggalkan janji, mereka tak pernah kembali.”
“Aku menyukai cinta yang berkubang dalam ciuman, ranjang dan roti.”
“Aku tak menginginkannya, kasihku, tiada apapun mengikat kita, tiada apapun menyatukan kita.”
(hlm. 62-63)

Buku ini juga dilengkapi dengan biografi singkat Pablo Neruda serta pidato pemenangan Nobelnya. Semoga sang penyair megah ini selalu tercurahkan keharuman surga, tanda cinta dari para pemujanya.

“Sebagai kesimpulan, saya ingin mengatakan kepada semua orang yang berniat baik, kepada para pekerja, dan kepada para penyair bahwa seluruh masa depan sudah diekspresikan oleh Rimbaud dalam satu kalimat diatas: hanya dengan kesabaran yang membara kita akan menaklukkan kota agung yang akan memberikan cahaya, keadilan, dan martabat bagi seluruh manusia.”
“Dengan demikian puisi tidak akan dilantunkan dalam kesia-siaan.”
(hlm. 119)

P.s : Terimakasih Kak Aan, telah merekomendasikan buku ini untuk di baca.