Sabtu, 13 Desember 2014

Laughing

I dont know what to do for life,
Until i know the word 'laugh'

Because

Mengeluh is ruining your life
Laughing is running your vibe


HAHAHA

Senin, 01 Desember 2014

#30HariMenulisPuisi #30Days

Lanjutan dari postingan sebelumnya. ini 15 Hari lanjutannya.

Day16

Tak mengapa kau beralas jerami dan berselimut bintang
Tapi kau menggenggam khasanah hutan pengetahuan
Kau pun percaya kecintaan pada cacing sekalipun
Kalau api ingin merenggut kesejukan berkas cahaya di wajahmu,
Siramilah dengan lautan akalmu, lalu maju mengepal
Membunuh sang penyala sumbu
Meski duri bibir kadang menggores
Ia takkan mampu menggurat otakmu

"Nikmatilah idealismemu selagi menjadi mahasiswa"


Day17

Up and down
Like a clown
Sometimes happy, sometimes moan
i think i need a breaking dawn


Day18

Pada suatu hari yang haru
Semua orang akan melanggar aturan
Asap penyesalan pun mengepul
Menuju muara kesia-siaan
Lalu menguap dan mengumpulkan angin
Meniupkan debu kitab kejadian
Menarik ulur takdir
Hingga harapan meletus
Menghembuskan asap penderitaan
Seperti hujan yang tak pernah habis
Dibalik matahari sang pelaksana titah


Day19

Di kepalaku penuh tangan berkepal-kepal
Ingin melawan tapi duduk tertawan
Lalu kutuangkan dalam cawan keabadian ruang
Adalah tulisan yang takkan mati di remuk massa.


Day20

Kata pepatah, kau bodoh bila jatuh dilubang yang sama
Mungkin lubang sudah kenal baik denganku
Tapak tanganku berbekas hampir disetiap senti tepinya
Sudah terlalu sering dia marah karena banjir
Airmataku memang selalu meluap tak tahu malu

Tapi dia tak pernah tahu isi hatiku
Tak pernah pula ia tanyakan mengapa aku sering berkunjung
Kuberitahu kau satu hal yang tak pernah kukatakan padanya
Aku sebenarnya sedang menunggu seseorang
Suatu hari lumpur akan mempertemukan kami di lubang yang sama
Entah karena ia tergelincir atau tersesat

Kala itu tiba, hujan akan membuat kami terapung ke atas lagi.


Day 21

Pernah kita berjumpa di persimpangan
Lalu main serampangan
Tak peduli aturan, timpang
Seperti sampan tak berdayung
Selalu begitu, saling sayang
Meski banyak yang rumpang

Hari ini kita berjalan terpisah, saling rampang
Tapi saling menatap, saling mencari tempat bertopang
Saling mengusik cinta yang tak pernah rampung


Day 22

Rabu malam yang dingin
Kita berangan mencari jalan
Saya membayangkan ibumu memakiku di telepon
Semoga di akhir minggu nanti kita tetap mencari kenangan
Lagipula aku sudah terbiasa di janji masa depan



Day 23

Menontonlah,
Selama matamu masih terikat neuron
Selama masih ada ketololan serangan serotonin
Sampi organ-organmu memiliki tuna-

#haritelevisi



Day 24

Love is like confetti
it BOOMS
Then you will fly and find some peace
Maybe someday you'll fall to the ground but you know what happiness is.



Day 25

Sejenak aku lupa
Entah apa yang kukejar dalam hidup
Ketika tujuan akhir sepanjang kehidupan manusia telah ku genggam,
Kebahagiaan



Day 26

Aku percaya pada bayangan
Tentu saja aku juga rela jadi bayang-bayangmu
Tahukah kau bahwa bayangan yang membuat segalanya tetap hidup
Semua pelukis  matahari pasti pasti mengerti.



Day 27

Masuli tu kamanarangan tapi ya tu penawa bisa umpobua'i mendadi taek na ke angga'
Tae na di pekutanan umba pada yu kapuanna ke penwanna tau ke na angga' i ndai; ki' apa buda batuananna.



Day 28

Mungkin ampas kopi tak hanya sekedar sisa
Ia memendam kejenuhan air dan bubuk

Selalu tiba saatnya membuang jenuh dan luka-luka
Lalu menyeduh lagi cinta yang harum dan nikmat

Buanglah, sebelum kau tak bisa lagi merasakan kecupan bibir



Day 29

Pernah ku katakan di awal cerita, jatuh pcinta pada buku itu jatuh cinta terkejam
Jatuh cinta pada tokoh yang hidup dalam buku lalu menyeberang ke imajinasimu
Hingga di akhir bab kau masih bertanya-tanya
Berharap kau masih bisa mebalik-balikkan halamannya setelah menutup sampul belakang

Daripada jatuh cinta pada buku, lebih baik kau mulai jatuh cinta pada pustakawan lucu
Seperti aku, misalnya.
Menghidupkan imajinasi lewat bibirnya yang bercerita
Tanpa perlu kau balik halaman, cukup selesaikan dengan kecupan



Day 30

Disore yang redup
Kita berjumpa di lapangan sekolah yang terik
Ada bias gemuruh dada yang meletup
Kali itu, gaya gravitasi sangat tak menarik

Sudah lama kita saling curi pandang
Aku telah menunggu kau menyambangiku
Kesabaranku tak lagi terbendung
Kini di hadapanku kau hanya diam tertunduk malu

Tiba-tiba saja kau melenggang pergi
Setelah ku genggam kertas yang terkoyak di tanganmu
Di gerbang sekolah, teman-temanku bersorak ramai
Kata mereka, itu surat cinta