Senin, 17 November 2014

Revolusi dan Aksi

Kalian, burung di udara, terbang ke rumah kami, sampaikan pada adik, ibu, dan perawan berkulit putih bahwa kami semua gugur dalam ghazavat. Katakan pada mereka, tubuh kami tidak akan tergeletak di dalam kuburan, tetapi serigala yang kelaparan akan memakan dan mengunyah tulang kami, dan burung gagak hitam akan mematuki mata kami. (Lagu bangsa Chechnya)

Tersebutlah Haji Murad, pejuang bangsa Chechnya yang di elu-elukan sepanjang masa. Leo Tolstoy, sastrawan Rusia mengabadikannya dalam sebuah novel. Semasa penugasan Tolstoy di Perang Kaukasus, dia mendengar kesohoran Murad dan mencari kisah-kisah tentangnya.  Bahkan Tolstoy yang seorang anarkis Kristen pun tergugah menuliskan pejuang muslim yang terkenal gigih ini. Haji Murad dipandang sebagai pahlawan yang memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan bangsa Chechnya.

Haji Murad sempat membelot ke Rusia, namun hal itu dikarenakan Shamil, pemimpin Chechnya, menahan keluarga dan mengancam Murad. Dalam beberapa adegan di novel, sang pahlawan bahkan di bangga-banggakan oleh lawannya sendiri. Namun hal itu tidak menghapus kesucian nama Hadji Murad, maka dibangunlah monumen atas namanya di kota Shaki Zhaqatal, Rusia.

Lain lagi dengan pahlawan yang kebesarannya tak di ragukan di dunia Islam, seperti  Husain bin Ali. Pahlawan yang dikenang karena memperjuangkan agamanya melawan Yazid bin Muawiyah. Husain, cucu Nabi Muhammad, memberontak karena merasa bahwa agamanya tidak lagi dijalankan semestinya. Dalam kehausan ia berperang melawan pasukan dari Kota Kufah dan syahid di tanah Karbala disaksikan keluarganya. Hingga kini, kematiannya selalu diperingati sebagai hari berduka setiap tahunnya, tepat tanggal 10 Muharram atau 2 November 2014 lalu.

Di Indonesia pun banyak pahlawan tak kalah gigihnya memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Sebut saja Pangeran Diponegoro, raja Mataram di Jogjakarta, berperang melawan Belanda sekita tahun 1800-an. Beliau sempat di asingkan di Benteng Rotterdam Makassar hingga akhir hayat. Sosoknya diabadikan di mata uang kertas Indonesia dan naskah klasik tentang hidupnya di beri penghargaan sebagai Warisan Ingatan Dunia.

Ada pula Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke-16, yang melawan kolonial Belanda ( VOC) sejak tahun 1660. Belanda kemudian menang dan menguasai Benteng Somba Opu, pertahanan terakhir kerajaan Gowa. Hingga akhirnya Sultan Hasanuddin wafat pada tanggal 12 Juni 1670.
***

Mao Ze Dong, seorang filsuf dan pahlawan pendiri negara Tiongkok, sempat berkata,”kalian datang mengambil pelajaran pada kami, padahal revolusi Husain yang memiliki pelajaran penuh nilai ada pada kalian”. Revolusi muncul karena perlawanan terhadapan kemapanan. Setiap revolusi akan akan selalu muncul sosok pahlawan dan seharusnya kita juga mampu memetik pelajaran yang berbeda-beda di tiap sosok. Katakanlah Revolusi Bolshevik di Rusia yang kemudian di pelajari dan diaplikasikan kembali di Perang Saudara Tiongkok.

Dalam konteks kekinian, pahlawan bukan lagi tentang pemimpin yang berperang secara fisik melawan penjajah bangsa. Memasuki zaman dengan tantangan yang semakin kompleks,  masyarakat Indonesia membutuhkan pahlawan yang berjuang melawan teror-teror seperti teror korupsi, teror politik kotor, mafia migas dan masalah kebangsaan lainnya. Dekadensi moral membuat lunturnya semangat kepahlawanan bangsa. Akan ada orang-orang yang tidak tinggal diam melihat bibit-bibit pahlawan di Indonesia. Contohnya Munir yang tewas di pesawat karena aksi HAM-nya yang di anggap mengganggu stabilitas pemerintahan. Setelah 10 tahun, barulah Hendropriyono, mantan kepala BIN, mengakui keterlibatannya dalam pembunuhan Munir pada bulan Oktober lalu. Lalu ada Wiji Tukul yang aktif menyuarakan protesnya terhadap ketidakadilan pemerintah masih berstatus hilang sejak tahun 1998.

Semangat kepahlawanan mesti terus dinafaskan untuk kemajuan bangsa. Selalu ada cara untuk menyuarakan kepahlawanan. Tidak mesti harus mendapatkan gelar pahlawan nasional atau tanda kehormatan dan tidak harus mengorbankan nyawa. Namun belajar dari semangat kepahlawanan terdahulu yang wajib ada. Bisa jadi turunnya kualitas kepahlawanan karena orang-orang masa kini haus publikasi, merasa bahwa seharusnya ada media yang mencaploknya sebagai pahlawan. Persepsi mengenai kepahlawanan perlu dikaji lebih baik.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran atau pejuang yang gagah berani.  Mari kita tengok tentang orang-orang yang mengorbankan hidupnya demi orang lain. Seperti misalnya Gerakan Berbagi Nasi yang bertujuan mulia mengembangkan semangat berbagi melalui sebungkus nasi di Indonesia. Gerakan ini sudah menyebar ke seluruh pelosok Indonesia, termasuk di Makassar. Lain lagi dengan teman-teman pemerhati kampung Savana, Makassar. Mereka melakukan pendampingan warga namun fokus pada gerakan edukasi, seperti mengajar anak-anak di kampung itu. Ada juga pendampingan warga di Pandang Raya, yang tanahnya di rebut oleh penguasa semena-mena. Komunitas Street Child Makassar juga hadir dalam membantu permasalahan edukasi bagi anak-anak kecil di jalanan. Semoga gerakan-gerakan sosial seperti ini tidak akan mati di bunuh peradaban yang katanya “maju”.

Aksi pahlawan pun tidak mesti dilakukan banyak orang. Bahkan hal-hal kecil sekadar menebarkan info kebaikan pun bisa dibilang pahlawan, bercermin pada definisi pahlawan di atas. Seperti kata Maya Angelou,”I think a hero is any person really intent on making this a better place for all people.”

Mari memaknai hari pahlawan dengan refleksi diri sendiri. Pada dasarnya seseorang bertindak sebagai pahlawan itu berasaskan cinta. Cinta hadir dalam setiap diri manusia. Setiap orang memiliki potensi kepahlawanan, tinggal bagaimana kita mengaktualisasikannya. Apa aksimu hari ini?


Pernah di muat di Koran Tempo Edisi Jumat, 21 November 2014 kolom Literasi

Jumat, 14 November 2014

#30harimenulispuisi #15Days

Sejak 16 hari lalu, saya mengikuti hashtag #30harimenulispuisi di Instagram. Nah hari ini saya mem-posting semua puisi yang telah saya buat selama 15 hari.

Day 1

Jatuh cinta terkejam itu
jatuh cinta pada buku
Pada akhirnya pilu
Hanya sesak dan singkat yang kau tahu


Day 2

Kuku patah
Katanya pertanda hidupmu tak lama
Cinta patah
Aaahh.. pertanda hidupmu tak lagi lapang

Seandainya aseton juga berguna pada hati


Day 3

Dua tahun yang lalu kau berjanji sambil meringis
Lalu selalu merindu dan bertemu
Dua minggu yang lalu kau lelah dan menepi
Lalu selalu mengelak dan congkak
Dua hari yang lalu aku mulai jijik
Lalu kau kerap mengganggu dan tergugu

Tidakkah kau benci dirimu sendiri?


Day 4

Saya tertidur dekat jendela
Hari itu kau berjanji menjemputku menghabiskan jeda
Dua hari kemudian sms-mu berbunyi,"Oh, saya lupa".
Bahkan sekadar sms di hari yang sama pun kau lupa.


Day 5

Senandung luka ku lantunkan
Bercampur rindu mendayu-dayu
Mengenang kepalamu, menggenang airmata
Wahai ahlul bayt

Terkutuklah segala panah yang merajammu
Juga merajam kesenduan suci Ali Ashgar
Ya Tuhan, bilamana dendamku pada Yazid berasaskan rindu pada-Mu,
masihkah Kau menghukumku?
#10thmuharram

Day 6

Terdengar kabar kalau kemarin kau jatuh
Lagi, aku terluka
Kau memang selalu jatuh ke pelukan bunga
Tapi tak pernah singgah di kelopakku


Day 7

Staring at glance
Damn, it makes me bounce
When it's you, i want a chance
Never takes too long to move and dance


Day 8

Begitulah perempuan
Jangan pernah menagih penegasan
Absurditas antara keinginan dan kebutuhan
Semacam lelaki yang mencaplok jalaliyah Tuhan


Day 9

Jangan pulang
merantaulah sesuka hatimu
Daun pintu berwarna menunggumu lebih terang
Karena hitam pun telah mengecat baik jendelaku


Day 10

Seseorang pernah berkata, lelaki yang sukses adalah lelaki yang setia pada wanitanya
Tiba-tiba lelaki itu beranjak
Ponselnya terus berdering sampai airmataku mengering


Day 11

Rindu berkumpul dan membendung mata
Penuh menunggu ruah
Dia hanya mampu mencinta
Seperti hujan yang tidak pernah selesai


Day 12

Earth is like heart
Sometimes  you need to choose
Marrying prosperity or live with love
Just switch the "hhhh"


Day 13

Seperti lampu
Sebagai pelampung
Kala matahari tak rampung


Day 14

Katanya perbedaan dalam cinta itu omong kosong
Hal-hal kecil tapi prinsipil mampu menggoyahkan asmara
Jangan bohong! Kita kerap bertengkar tentang persepsi waktu
Aku selalu menunggu dan kau selalu terlambat


Day 15

Bermegah-megahlah dengan matahari sang mega
Sebelum hujan menjadi jeda
Nikmatilah cintamu sampai tak ada lega
Karena bahagia selalu menjanjikan tangis penuh tega

MAJU KENA MUNDUR KENA

Pernahkah kau mendengar cerita tentang sepasang suami istri yang membawa keledainya untuk dijual? Selama perjalanan mereka bertemu dengan beberapa orang yang mencemooh mereka. Pertama, sang istri naik di keledai dan suami berjalan kaki disampingnya.
Beberapa orang tiba-tiba menimpali bahwa betapa kejam sang istri membiarkan suaminya berjalan kaki. Kemudian mereka akhirnya berganti posisi, kali ini istrinya yang berjalan kaki. Ketika mereka bertemu dengan sekelompok orang,lagi-lagi mereka dicibir bahwa sungguh kejam sang suami membiarkan sang istri berjalan kaki.
Mereka berdua pun menaiki keledai tersebut, mereka sangat heran karena orang-orang yang mereka lewati berkata mereka berdua terlalu kejam pada sang keledai. Akhirnya mereka sepakat, keduanya cukup berjalan kaki sampai di tujuan. Tapi, tetap saja orang-orang malah menyebut mereka bodoh karena tidak menaiki keledai tersebut.
***
Seumpama paradoks “maju kena, mundur kena”, judul film trio komedian Dono, Kasino dan Indro itu, hal ini juga terlihat di wajah politik Indonesia. Berbagai cobaan yang menyerbu bangsa telah membuat sebagian rakyat Indonesia merasa kehilangan harapan.
Apalagi mengenai birokrasi Indonesia yang cukup timpang. Pesimisme merajalela di mana-mana. Pesimisme kemudian menghantarkan pada opini publik yang buruk. Edward M. menjelaskan bahwa opini publik tidak selalu logis, tidak berbentuk, ambivalen, kontradiktif dan mudah berubah.
Hal ini mengakibatkan munculnya persepsi kolektif dan diusahakan “masuk akal” terhadap isu-isu yang berkembang. Inilah yang dimaksud paradoks tadi. Seperti cerita di atas, ketika ada kebijakan pemerintah yang keluar, selalu ada pro dan kontra yang ikut muncul menghantui bahkan hampir selalu dianggap kesalahan.
Menurut Jalaluddin Rakhmat, persepsi adalah pengamatan tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Jadi wajar bila persepsi mengenai kesalahan kebijakan seringkali muncul karena akibat-akibat yang ditimbulkan tersampai buruk di mata masyarakat. Misalnya tentang korupsi, mafia migas, impor bahan pangan dan sistem politik yang tidak berjalan semestinya telah mapan selama puluhan tahun di wajah birokrasi Indonesia.
Character is like a tree and reputation like a shadow. The shadow is what we think of it, the tree is the real thing.  –Abraham Lincoln
Sebagai individu yang peduli terhadap kemajuan bangsa tentu kita harus tetap mengawal kebijakan-kebijakanpemerintah. Sayangnya, masyarakat kadang hanya melihat sisi negatif dengan nada pesimistis dalam kehidupan pribadi mereka tanpa memikirkan dampak jangka panjang keputusan tersebut.
Agak subjektif memang, namun ini didasari oleh aroma apatis dan pesimisme masyarakat mengenai birokrasi Indonesia selama beberapa tahun silam. Tentu saja karakter pesimis masyarakat itu tak terlepas dari peran media massa.
Mari kita menengok ke Jokowi yang baru-baru dilantik. Sebelum dilantik, isu kebijakan Jokowi telah banyak ditimpuk fitnah. Misalnya saja, isu-isu tak jelas mengenai pemberian fasilitas mobil mewah bermerek Mercedes Benz untuk para menteri di kabinetnya.
Tentang Jokowi yang tidak punya visi dan misi yang jelas untuk pengembangan negara atau tentang kebijakan Jokowi yang “disetir” oleh Megawati Soekarnoputri. Baru-baru ini pun Fadly Zon, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, mengkritik Jokowi mengenai campur tangan KPK dalam menetapkan nama-nama menteri di kabinet.
Ini merupakan bentuk pesimisme yang meradang di jantung Indonesia. Tidak dipungkiri bahwa oposan Jokowi-JK tidak akan tinggal diam, apalagi mengenai keputusan Jokowi yang tidak melibatkan eksekutif parpol dalam pemilihan kabinet. Sebelum menghakimi sebuah keputusan pemimpin, kita harus mampu menelaah dengan baik alasan-alasan mengapa diambilnya keputusan tersebut apalagi bila keputusan tersebut belum final.
Mari terus membangkitkan optimisme untuk kemajuan Indonesia. Ada wajah-wajah baru dalam perpolitikan Indonesia. Kini stigma seorang pemimpin tidak lagi harus berwibawa, namun bagaimana ia tampil sederhana, membaur dan rajin bersentuhan dengan rakyat.
Pemuda-pemuda zaman ini pun lebih aktif mengawal jalannya pemerintahan, mulai berpartisipasi dalam pemilihan. Tidak hanya kalangan akademis, namun pekerja-pekerja kreatif pun turut serta menyuarakan aspirasinya. Terlihat dengan adanya konser musik sukarela ataupun meme-meme kreatif para pendukung Jokowi tersebar.
Ini merupakan nafas baru dan harapan besar. Optimisme seperti ini harus tetap dijaga, semoga amanah yang dibebankan kepada Jokowi bisa terlaksana dengan baik. Selagi hal itu benar dan untuk kemaslahatan hidup orang banyak, majulah terus Mas Joko, majuki Daeng Ucup. 

Tulisan ini pernah dimuat di revi.us pada tanggal 22 Oktober 2014

CURAHAN HATI PARA SUPIR TRUK

Tak bisa dipungkiri bahwa kemajuan komunikasi saat ini sangat pesat, hampir semua orang bisa mengakses informasi dalam hitungan detik. Misalnya ketergantungan manusia terutama di kalangan remaja terhadap media sosial. Salah satu kegunaan media sosial adalah menyampaikan opini secara bebas dan dibaca oleh banyak orang.
Bahkan ada yang tertangkap polisi karena curhat (baca: curahan hati) di media sosialnya. Semua orang bisa mendadak menjadi Mario Teguh versi KW. Dengan mudah kita meng-copy-paste kata-kata bijak terkenal untuk di-posting di status media sosial milik pribadi.
Fenomena memosting kutipan kata-kata bijak saat ini sangat arak dilakukan oleh pengguna setia media sosial. Entah untuk mendapatkan retweet dan love yang banyak atau memang ingin mengutarakan pendapat melalui quote terkenal. Ada juga yang ingin memperlihatkan kesedihannya, menyindir atau pesan tersembunyi dibalik kata-kata bijak tersebut.
Tulisan kata-kata bijak itu kemudian berkembang menjadi gambar-gambar indah yang dibubuhi tulisan. Jadi,orang-orang tidak lagi mengetik langsung kata-kata bijaknya, namun cukup memosting gambar yang disertai tulisan. Tentu saja mata lebih tertarik pada hal-hal yang berupa konversi bermacam-macam warna dibandingkan hanya dengan tulisan warna hitam.
Soal gambar-gambar yang di-posting, belakangan ini saya juga sering melihat gambar yang di-posting adalahkutipan-kutipan lucu yang tertulis di pantat truk. Orang-orang  memfoto pantat truk yang biasa ditemui secara tak sengaja di jalan kemudian di-posting ke media sosialnya.
Pantat truk ini telah menjadi media para pemilik truk menuangkan opininya seperti masyarakat netizen dengan dindingtimeline media sosial. Ternyata sopir tidak hanya bisa menyetir, namun punya imajinasi menyenangkan dan kreatif dalam memodifikasi truknya.  Tentu saja bukan hanya kata-kata bijak yang kita temui, namun kata-kata lucu ataupun yang mengarah ke hal-hal mesum termasuk gambar-gambar porno yang tak jarang di temukan.
Tanpa sadar kita seringkali senyum-senyum sendiri melihat tulisan-tulisan itu. Misalnya saja tulisan “Dua Anak Cukup, Dua Istri Bangkrut” atau gambar perempuan seksi dengan tulisan “Menunggu Kedatanganmu”. Ada pula kata-kata lucu seperti “Putus cinta soal biasa, Putus rem mati kita”.
Pantat truk ini memang paling pas dihiasi dengan tulisan atau gambar karena sengaja ataupun tidak, orang yang berada di belakang truk secara otomatis pasti melihatnya.  Apalagi didukung oleh ukuran truk yang cukup besar sehingga mengundang perhatian mata. Mungkin saja dengan cara ini, para sopir tanpa sadar mencurahkan hati mengenai kehidupannya sehari-hari atau hanya sekedar bercanda menikmati hidup.
Tren memosting kata-kata bijak itu bisa jadi adalah curhat dan curhat memang merupakan salah satu kebutuhan manusia dalam hidupnya. Menurut Karen Horney, untuk mengatasi kecemasan dasar, orang mengembangkan sejumlah strategi.
Maka diciptakanlah sebuah citra ideal untuk mencapai kesempurnaan atau “kemuliaan”, untuk mendukung itu manusia juga mengembangkan “sistem kebanggaan”. Adapun satu set perilaku standar yang mustahil atau “keharusan” dan manusia mencoba untuk menyangkal atau mengeksternalisasi hal-hal dalam diri yang tidak mampu “mengatasi”.
Mengatasi merupakan pengeluaran usaha sadar untuk memecahkan masalah personal dan interpersonal, dan berusaha untuk menguasai, mengurangi, atau menolerir stres atau konflik. Secara psikologis biasa disebut strategi mengatasi atau keterampilan mengatasi. Istilah mengatasi umumnya mengacu pada strategi penanggulangan adaptif atau konstruktif.
Menurut hemat saya, curhat baik dalam bentuk kata-kata bijak ataupun pengungkapan langsung merupakan salah satu kebutuhan manusia untuk mengatasi stres atau konflik.
Hal-hal negatif bersebaran dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga setiap orang mencari pelarian atau cara untuk mengatasi tekanan dalam hidup. Salah satunya adalah memiliki kata-kata bijak penenang hati agar menjalani hari lebih baik. Kata-kata bijak menjadi seperti pil penyemangat setiap mengawali hari.
Namun masing-masing orang mempunyai cara menyampaikan yang berbeda. Misal, Taylor Swift yang curhat dengan lirik “In my mind saying it’s gonna be alright” dalam lagu barunya berjudul Shake It Off.
Apalagi dengan kemajuan komunikasi saat ini. Manusia kini seperti tersesat dalam kehidupan yang serba cepat, sehingga membutuhkan hal-hal dalam bentuk paket. Paket yang kecil, instan dan mudah dicerna. Sama halnya dengan postingankutipan-kutipan kata bijak yang pendek dan mudah dicerna, apalagi bila disertai dengan gambar.
Horney juga berkata bahwa pengembangan kepribadian dibentuk oleh budaya dan akan bervariasi dari budaya ke budaya. Bila remaja-remaja saat ini curhat via dinding timeline, maka para sopir menggunakan pantat truk miliknya. Malah pantat truk bisa jadi papan reklame besar yang berjalan ke mana-kemana menyampaikan pesan-pesan positif (atau mesum) kepada orang lain. Jadi jangan heran bila ada yang menemukan kutipan isi Al-Qur’an di pantat truk.

Tulisan ini pernah dimuat di revi.us pada tanggal 20 September, 2014