Selasa, 29 April 2014

Away From Her







The Bear Come Over The Mountain
Penulis : Alice Munro
Penerjemah : Anton WP
Pernerbit KATTA
Cetakan Pertama, 2014
64hlm; 13.5x20.5cm

Blurb:

“Kukira itu tak perlu dikhawatirkan,” kata Fiona. “Mungkin aku hanya kehilangan ingatanku.”
Grant bertanya apakah dia telah meminum pil tidur.
“Aku tak ingat,” katanya. Lalu dia minta maaf karena terdengar begitu ceroboh. “Aku yakin tak meminum pil apapun. Mungkin aku seharusnya meminum sesuatu. Mungkin vitamin.”
Vitamin tak membantu. Dia sering berdiri di ambang pintu, bingung kemana dia akan pergi. Dia lupa menyalakan api ketika memasak sayur atau lupa menaruh air di mesin pembuat kopi. Dia menanyakan kapan mereka pindah ke rumah ini.
“Apakah tahun lalu atau tahun sebelumnya?”
“Dua belas tahun yang lalu,” kata Grant.

Review
        Sebenarnya cerita di buku ini adalah cerita pendek Alice Munro, salah seorang master pembuat cerpen didunia, yang dibukukan. Menurut saya, sampul buku sangat tidak cocok dengan isi buku, entah kenapa mereka membuat ilustrasi orang berjalan di tengah lapangan bersalju. Menurut catatan dalam buku, ilustrasi sampul mengikuti ilustrasi dari film “Away From Her”. Betul, cerita ini bahkan telah difilmkan tapi judul asli cerpen ini adalah The Bear Come Over The Mountain. Sama saja, judulnya pun tidak nyambung dengan isi cerita. Tapi saya yakin Munro punya alasan tersendiri memberikan judul tersebut.

       Terjemahan yang menjengkelkan adalah pendapat pertamaku saat awal membaca buku ini. Saya perlu membacanya sampai dua kali. Sebenarnya bukan karena cerita yang berat tapi karena alur yang membingungkan. Kadang ada beberapa bagian yang seharusnya cerita kedua tokoh tidak digabungkan. Maksud saya, ketika membicarakan kehidupan pribadi satu tokoh, cerita tokoh lainnya ikut tercampur hingga membingungkan. Semoga yang membaca review saya ini mengerti maksudnya. HAHAHA 

      Buku ini bercerita tentang suami istri yang saling sayang meskipun tidak dikaruniai buah hati. Namun sang suami harus menghadapi kenyataan bahwa sang istri mengidap penyakit Alzheimer. Sang istri yang bernama Fiona pun akhirnya harus dibawa ke tempat perawatan pengidap Alzheimer. Grant, sang suami, dengan sabar terus mengunjungi istrinya walaupun istrinya bahkan tak mengingatnya lagi. Fiona sempat menjalin hubungan asmara dengan sesama pasien dan Grant dengan sabar mencoba menghibur Fiona ketika Aubrey, kekasih Fiona selama di rawat, harus pergi meninggalkan Fiona. 

      Saya percaya cerita ini begitu romantis sekaligus mengharukan. Penulis membiarkan pembaca menebak-nebak apa yang terjadi tanpa perlu menjelaskan lebih lanjut. Cerita tentang cinta yang bahkan waktu pun takkan mampu melawannya. Seandainya bukan karena terjemahan yang menjemukan, bisa jadi saya menangis membacanya. Semoga nantinya saya bisa membaca cerita dalam versi asli, bukan terjemahan.

“Aku gembira melihatmy,” kata Fiona, dengan manis dan kaku. Dia mencubit cuping telinga Grant keras-keras.
“Kau bisa benar-benar pergi,” kata Fiona. “Benar-benar pergi tanpa peduli sama sekali dan meninggalkan aku. Meninggalkanku. Meninggalkan.”
Grant menempelkan wajahnya dirambut putih Fiona, kulit kepala merah mudanya, tempurunga kepalanya yang manis.
Dia berkata, “Tak mungkin.”

Rabu, 23 April 2014

Haji Murad






Judul Asli : Hadji Murat
Terjemahan : Haji Murad
Pengarang : Leo Tolstoy
Penerjemah : Fahmy Yamani
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Tahun Terbit : Jakarta, Juli 2013
Tebal Buku : 1,5 cm
Jumlah Halaman : 242 hlm.

 Blurb :
Karya pamungkas Leo Tolstoy yang baru di terbitkan setelah kematiannya ini adalah dongeng moral paling dahsyat pada zaman kita.
Novel ini terinspirasi oleh sosok historis dan kontroversial yang didengar Tolstoy ketika bertugas sebagai tentara di Kaukasus. Kisah ini menghidupkan sang pejuang terkenal, Haji Murad, seorang pemberontak Chechnya yang berjuang dengan garang dan gagah berani melawan kekaisaran Rusia.
Haji Murad adalah gambaran menggetarkan sosok pejuang tragis yang masih dikenang hingga kini. Inilah sebuah kisah indah tentang cinta, perjuangan, dan pengorbanan yang layak Anda renungkan.

Review :
         Leo Tolstoy adalah sastrawan besar Rusia dan seorang filsuf yang terkenal lewat dua novelnya, Perang dan Damai dan Anna Karenina.  Sebenarnya agak mengejutkan mendapati Leo Tolstoy menuliskan kisah tentang perjuangan gigih seorang muslim bernama Haji Murad sedang Tolstoy sendiri adalah seorang anarkis Kristen. Novel Haji Murad ini berdasarkan kisah nyata yang dituliskan Tosltoy dari pengalamannya sebagai tentara muda saat bertugas di Kaukasus. Penulis mencari info sedetail mungkin tentang kehidupan sehari-hari Haji Murad dan sejarah militer serta politik waktu itu. Buku ini berlatar Perang Kaukasia yaitu perlawananan bangsa Chechnya memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan mereka melawan Tsar Rusia.
       Kesan detail langsung terpancar di bab pertama penggambaran penulis mengenai Hadji Murad. Pejuang ini digambarkan sebagai seorang guru spiritual sekaligus pejuang gigih yang rendah hati dan sederhana. Awalnya Haji Murad adalah seorang wakil atau administrator yang ditunjuk oleh Shamil, pemimpin perlawananan bangsa Chechnya kala itu. Lalu kemudian Shamil merasa bahwa Haji Murad menjadi ancaman baginya karena Murad tidak menginginkan Shamil memimpinnya dengan alasan bahwa darah Shamil adalah darah pembunuh semua keluarganya. Akhirnya Haji Murad pun membelot pada Tsar Rusia karena Shamil menyandera istri dan anak-anaknya. Pejuang gigih itu tidak mampu berbuat apa-apa pada Shamil selama keluarganya masih tertahan.

Bahkan dihadapan musuhnya sekalipun beliau sangat dihormati dan disanjung.

Tuhan memberikan lebih banyak bajingan Rusia kepada kita,”ujar Marya Dmitrievna tiba-tiba dengan nada kesal. “Dia hidup satu minggu bersama kita; kita tidak melihat apapun, kecuali kebaikan darinya,”ujarnya. “Sopan, bijaksana dan adil.”

       Namun pihak Rusia terus mengulur waktu sedang Haji Murad sendiri merasa terjepit memikirkan nasib keluarganya yang tertahan oleh Shamil. Akhirnya dia memutuskan lari bersama pengikut Avar yang setia dan pilihannya mati atau menyelamatkan keluarganya.

Kematian ini diingatkan kepadaku oleh serpihan bunga widuri ditengah ladang yang baru dibajak.

       Sebenarnya ide novel ini cukup menarik, namun penggunaan bahasanya agak timpang. Saya selalu percaya bahwa kumpulan tulisan dengan bahasa asal pengarang akan membawa makna lebih mendalam dibanding dengan terjemahannya, begitupun novel ini. Walaupun begitu, buku ini dilengkapi penjelasan istilah-istilah bahasa pengarang yang tidak familiar dalam bentuk catatan-catatan kaki. Penerjemah juga masih menyertakan beberapa percakapan dalam bahasa Perancis. Sayangnya, di akhir cerita sedikit mengecewakan buat saya. Haji Murad terbit setelah dua tahun kematian Tolstoy, saya agak yakin novel ini belum selesai dituliskannya atau mungkin masih dalam tahap penyempurnaan. HAHAHA

Selasa, 22 April 2014

PASUNG JIWA

PASUNG JIWA
Oleh Okky Madasari
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, Mei 2013
320 hlm; 2 cm

Blurb:

Apakah kehendak bebas benar-benar ada ?
Apakah manusia bebas benar-benar ada?
Okky Madasari mengemukakan pertanyaan-pertanyaan besar dari manusia dan kemanusiaan dalam novel ini.
Melalui dua tokoh utama, Sasana dan Jaka Wani, dihadirkan pergulatan manusia dalam mencari kebebasan dan melepaskan diri dari segala kungkungan. Mulai dari kungkungan tubuh dan pikiran, kungkungan tradisi dan keluarga, kungkungan norma dan agama hingga dominasi.


Review :

        Okky Madasari memang terkenal dengan novel-novel fiksi tentang keadilan dan kemanusiaan, Pasung Jiwa ini merupakan salah satu novelnya yang bertema sama.  Selain itu novel ini juga masuk sebagai salah satu finalis penghargaan sastra bergengsi di Indonesia, Khatulistiwa Literary Award. Cover novel cukup menggambarkan mengenai isi novel mengenai penjara tubuh dan pikiran.

      Ide novel mengenai transgender mungkin memang bukan ide yang baru namun pengarang mampu mengatur sedemikian rupa sehingga novel ini menjadi apik dan menarik. Membaca novel ini mengingatkan saya tentang pemikiran Freud atau pemikiran psikoanalisis pada umumnya bahwa tindakan pemikiran, kepercayaan, dan konsep tentang diri utuh dideterminasi atau dibentuk oleh ketaksadaran, serta berbagai dorongan dan hasratnya.  

       Hal ini tampak pada ceritera tentang si tokoh utama, Sasana.  Sasana adalah seorang anak dari Ayah yang bekerja sebagai ahli hukum dan Ibu yang berprofesi dokter bedah. Si anak dipaksa terbentuk sebagai perwujudan obsesi orang tua. Sasana harus mengikuti les piano dan menjadi anak cerdas kebanggaan orang tuanya. Hingga akhirnya Sasana menyadari bahwa dia lebih gemar dengan musik dangdut daripada musik-musik klasik yang dipelajarinya. Kemauan Sasana sangat bertentangan dengan kehidupannya sehari-hari. Sejak masuk kuliah dan jauh dari orangtuanya, Sasana akhirnya merasakan sedikit kebebasan dan bertemu dengan Cak Jek atau Jaka Wani, tokoh utama kedua di novel ini. Mereka saling melengkapi untuk mewujudkan impian mereka masing-masing. Namun tidak sedikit pengorbanan yang harus mereka hadapi bahkan sempat terpisah dan menjalani kehidupan yang suram. Selama perjalanan kehidupan itu mereka menyelami arti kebebasan yang dibebani oleh himpitan kondisi ekonomi, kekejaman para penguasa serta arti lingkar tradisi dan moral.
      Sasana dan Cak Jek juga bertemu dengan beberapa orang lain selama mereka terpisah seperti Banua yang ditemui Sasana saat sempat dirawat di rumah sakit jiwa, ataupun Elis seorang pelacur realistis yang ditampung oleh Jaka Wani selama menjadi buruh di suatu pabrik. Pengarang membagi-bagi beberapa bab sesuai dengan karakter masing-masing tokoh yang makin membuat novel ini menarik. Kata-kata menarik yang disampaikan oleh Okky Madasari dalam novel ini terwujud seperti dibawah ini:

Pikiran kerap hanya terbangun oleh tempelan-tempelan  yang kita ambil atau dipaksa masuk oleh sekitar kita. Sementara tubuh selalu diperlakukan sebagai pengikut pikiran. Ia tak hadir dengan kewengangan. Maka ketika tubuh bergerak sendiri, lepas dari pikiran, selalu dianggap pembangkangan. Berbagai hal disalahkan sebagai sumber pembangkangan itu. …
Sementara jiwa adalah kesadaran yang menempel dalam keberadaan manusia . Sangat kecil dan tersembunyi. Suaranya selalu jernih, tapi lirih tak terdengar. Kesadaran lama tak diperhatikan, akhirnya makin bersembunyi, kalah oleh timbunan-timbunan suara luar yang diyakini sebagai kebenaran.”

       Saya sendiri kurang suka bagian cerita yang menggambarkan bagaimana Sasana lari dari rumah sakit, agak klise. Tetapi secara keseluruhan novel ini mampu menceritakan kisah-kisah yang agak dekat dengan kehidupan sehari-hari, bahkan saya pun merenungkan diri sendiri setelah membaca novel ini.  Quote “Untuk setiap nyala keberanian yang tersembunyi dibalik ketakutan” di awal halaman saya kira sangat menggambarkan ide novel yang kurang berani disuarakan oleh berbagai lapisan masyarakat.