Selasa, 19 Maret 2013

rindu



Sulit membahasakan rindu yang tak berbilang.. meski kau kini tak tergenggam..

Kamis, 14 Maret 2013

t



Satu-satunya alasan baru kali ini aku menuliskanmu karena aku tak punya alasan untuk mengeluh tatkala mencintaimu.

Selasa, 12 Maret 2013

gelang

(hasil tugas menulis tentang benda kesayangan dari kakak hurufkecil..:p)





“nih.. buat kamu’, kata Malik, pacar baruku. Hari itu tanggal 3 Juni tepat dua bulan aku pacaran dengannya dan kerap bersamanya. Hampir tiap hari aku menghabiskan senja dengannya. Mungkin saja bulan berkata lain bila aku bertemu dalam balutan cahayanya, tapi matahari yang memegang saksi. Terang saja aku bahagia. Kejutan-kejutan kecilnya adalah poin penting pertahanan cintaku untuknya. Kali ini dia memberiku sebuah gelang dari tali prusit berwarna oranye. Sederhana seperti penampilan Malik, gelang itu hanya terlilit dua kali tanpa embel apapun. Dia lalu memasangkan gelang itu ditanganku. Tapi aku hanya menjawab “Trims,” dengan kurang semangat dan hampir seolah tidak peduli. “tidak suka?” tanyanya. “tentu saja saya suka semua bentuk cintamu padaku” kataku agak berlebihan untuk menenangkannya. Lalu kami berdua tersenyum kecil. “kau tahu, aku selalu membuat satu gelang setiap berhasil menaklukkan satu puncak. Gelang yang kau gunakan itu aku buat di puncak kedua yang ku daki. Sedangkan yang aku pakai adalah gelang yang ku buat di puncak pertama,’ katanya sambil menjulurkan tangannya yang penuh berbagai macam model gelang. Aku melihat gelang berwarnya oranye menyala diantara gelang-gelang ditangannya. Malik memang baru saja pulang dari mendaki. Hari ini rasanya ingin menghambur memeluknya, rinduku seperti air mata yang menumpuk dipelupuk mata untuk melesak jatuh. Tapi kami berdua sedang dikampus, tidak mungkin aku memeluknya didepan semua orang.
Malik memang seorang pendaki gunung ulung. Aku berkenalan dengannya ketika aku ingin mengikuti “fresh camp’ yang hampir tiap tahun diadakan mahasiswa pencipta alam di fakultasku. Tapi pada akhirnya aku tidak jadi ikut. Agak lucu juga mengingat-ingat kejadian itu. Selain pendaki ulung, dia juga sangat ulung menggulung seluruh perhatianku untuknya. Mendengar ceritanya tentang gelang itu, aku tiba-tiba bersemangat. Segera saja benda itu ku deklarasikan jadi barang kesayanganku. Gelang itu seperti memiliki sihir yang memikat hati semua orang disekelilingku. Tidak hanya kakak perempuanku yang mencoba merebut gelang itu dari tanganku, bahkan teman-temanku yang kupikir tidak akan mau memiliki gelang prusit memaksaku memberikan gelang ini. Padahal gelang ini sesederhana kertas putih tanpa tinta. Entahlah, mungkin cinta yang kuat didalamnya mempengaruhi aura semua orang. Gelang itu terpasang di tangan kiriku dan hanya seperti terlihat dua garis oranye mengelilingi pergelangan tanganku. Sejak Malik memberikannya aku tak pernah melepasnya barang sedetik pun, bahkan saat mandi sekalipun. Namanya juga benda kesayangan, tentu sulit melepaskannya dari pandangan.
Malik dan aku telah menjalin hubungan selama 4 bulan. Namun belakangan ini aku mulai sering mengeluh padanya. Kekasih mana yang tidak kesal melihat pasangannya menaruh perhatian pada perempuan lain yang baru saja dikenalnya. Saat ini Malik memang sedang sering nongkrong di TimeLine twitternya sejak memiliki Ipad yang dibelikan mamanya. Bahkan saat bersamaku pun kadang-kadang dia lebih sibuk mengomentari status twitter teman-temannya dibanding berbicara denganku yang jelas-jelas nyata dihadapannya. Jaman sekarang memang sulit mendefinisikan realitas. Tapi keluhanku selalu tidak terjawab oleh Malik, dia kadang-kadang berpura-pura tidak dengar atau mengalihkan perhatian ketika aku mulai mengeluh tentang hal itu.
Pagi ini aku murka, sedikit hampir menangis ditempat tidur. Pasalnya Malik telah keluar dari redline hubungan kami berdua. Segera saja aku kirimkan pesan singkat tentang putus hubungan dengannya lalu mematikan ponsel. Semalam ketika Malik berkunjung kerumahku seperti biasa di Malam Minggu yang telah menjadi rutinitasnya, Malik tiba-tiba meminjam ponsel BlackBerry-ku. Ternyata Ipad-nya kehabisan baterai dan dia perlu akses internet, entahlah untuk apa. Aku baru tahu ketika aku menyalakan ponselku pagi ini. Ternyata semalam dia menggunakan aplikasi twitter di ponsel Blackberry-ku dan ternyata akun Malik masih ter-log in. Memang semalam ponsel itu mati tiba-tiba karena kehabisan baterai pula dan Malik  belum sempat memutus akunnya. Karena rasa penasaran yang besar akhirnya aku mengutak-atik akunnya. Maka bertemulah aku dengan penyebab kekesalanku. Aku melihat direct message-nya dengan seorang perempuan yang tak kukenal. Tentu saja isinya adalah keakraban  yang tidak wajar menurutku karena aku sedang menjalin hubungan dengan Malik. Makin murkalah aku ketika mendapat balasan singkat darinya yang berisi “terserah”
Maka aku menangis menjadi-jadi dibalik bantalku. Sekitar setengah jam aku bermuram durja sambil melihat-lihat gelang ditanganku. Aku mulai introspeksi diri, sebenarnya kurang baik apa aku untuknya selama 6 bulan pacaran. Setelah air mataku puas menenangkan hatiku, aku mulai berbenah dan kembali menjalani aktivitas seperti biasanya. Mungkin Tuhan terlalu baik padaku sehingga dia tidak ingin aku bersama dengan orang yang tidak baik, kataku dalam hati. Memang sulit melepaskannya tapi aku juga pantang memohon kembali padanya karena aku yang minta putus dan tidak merasa bersalah sedikitpun. Akhirnya setelah seminggu putus dari Malik, hatiku tak galau lagi. Tapi putus bukan berarti aku melepaskan semua barang-barang pemberiannya. Aku bahkan masih sering mengagumi gelang oranye ditanganku, gelang itu tetap menjadi barang kesayanganku.
Belakangan ini desas desus mengenai pacar baru Malik sampai ditelingaku. Tanpa bertanya kesana kemari, berita itu disampaikan sendiri oleh teman-teman Malik yang juga temanku. Sedikit kesal karena menurutku dia terlalu cepat menjalin hubungan dengan orang lain lagi sejak putus dengan. Tapi sudahlah, mungkin dia memang tidak pantas untukku. Meskipun kadang-kadang aku tergoda untuk menghubunginya lagi, tapi aku selalu mencoba menahan diri. Pasalnya, kejadian kemarin itu tidak cukup memotivasiku untuk membencinya. Kadang aku berpikir apakah aku yang terlalu posesif.
Saat itu aku berjalan menuju ruang kelas dari kantin, sedikit cepat aku melangkah karena kulihat pintu sudah tertutup. Sepertinya dosenku kali ini datang lebih cepat. Tiba-tiba seseorang menubrukku dari samping, perempuan itu sepertinya juga sedikit terburu-buru keluar dari ruang kelas. Aku sempat mengumpat kesal namun kemudian aku mendengar percakapan sesesorang dari balik pintu. “Gelang ini katanya dibuat sama Malik waktu dia dipuncak kedua digunung yang dia daki minggu lalu. Keren kan?” terdengar sayup-sayup suara cempreng seorang gadis dari balik pintu dalam kelas. Kemudian aku menengok sedikit dan melihat gadis yang diceritakan teman-temanku notabene adalah pacar Malik saat ini. Dia kemudian terdiam sejenak melihatku, lalu membuang mukanya. Aku melihat gelang prusit berwarna merah marun  menggulung pergelangan tangannya. Tanpa berkata apa-apa pada perempuan yang kutabrak, secepat kilat aku menuju ruangan kuliahku dan mengambil gunting kecil dari tempat pensil Maya, teman kelasku. Tanpa pikir panjang, aku menggunting gelang oranye yang terpasang manis dipergelanganku.

Sabtu, 09 Maret 2013

13 Juli 2011

(Old post : Friday, 15 July 2011 at 05:49) / No Special Intention

Kurapatkan jaketku sayang..
Aku tunggu di ruang ujung..
Detik telah menjajaki hari yg masih mmbayang
Aku senang

Layangkan kakimu
Ujung jalan mnunggu untuk bertemu
Hati-hati mesin menderu-deru melaju
Tanda domba-domba tlah hbis dihitung beribu

Kadang kita diam mempertanyakan hati masing-masing
Kadang kita bercengkrama nyaring
Diselip tikus berseliweran mencari remukan busuk mengering
Dalam lengang bersamamu makin rumit membunuh rasa sayang

Sambil menunggu Tuhan memanggil,aku semayamkan jasad sementara
Tapi kau hanya menepis kehausan lelah dengan duduk terjaga
Mengibas binatang-binatang nakal yg mengadu hidup mengangguku tanpa jera
Akhirnya aku menghadap ampunanMu dan kau meringkuk lega

Ahh.. Matahari meniupkan cahayanya mengecup mataku
Cerita mengalun lembut mendayu-dayu
Akhirnya hanya aku yang bernyanyi sendu
Dan kembali di peraduanMu

Kita tertawa diantara matahari yg mulai terlelap
Bisikan gigih untuk kemenangan esok terdengar sayup-sayup
Ingatkah kau anak-anak kecil yang beradu yg hanya punya tawa hidup?
Malam makin melesak menggegap

Kututup telingaku dengan semu merah
Jangan lagi kau bahas hatiku yang telah bercelah
Mari berpindah ditopik diri masing-masing tanpa lelah
Aku melepas rindu yang telah tertadah

Mari menutup hari
Bertepuk tangan dan angkat kaki
Meloncat menggapai atap-atap tinggi
Aku hanya mampu tergugu dipenghujung hari

#sakit kakiku
#slamat ulang tahun

terjebak

(Postingan lama: Wednesday, 22 September 2010 at 01:42)


aku stagnan
aku statis
menetap hampa
menatap kosong

cabutkan paku ini
tarik jejaring ini
kempiskan sepi ini
lepaskan aku

adakah dia?
hanya kabut tipis yg tak tertepis dari pelipisku
menutup pandanganku
padahal tak pernah kuundang datang

hold your breath

(Postingan lama: 31 Desember 2009 pukul 10.17)


ketika risau menggelitik emosiku.
takkan jauh darimu akibatnya
karena
kau telah datang di satu malam berbintang
menggenggam hangat merasuk jemariku
aku terdiam ketakutan mencoba terlelap
maaf aku hanya seorang adinda
bukan seorang kekasih.

kietika aku kesakitan dimalam-malamku
tercipta lubang kesunyian mendalam
mencari peraduan meski sesaat
takkan ada yang mampu kecuali Tuhanku
yang kau kira dirimu.

maafkan ego yang bermain
hanya sedikit kesempatan
tapi kau mengulur penuh asa
dan itu sangkaku
dan kau akan menyadari
karmaku yang bermain
maafkan.

hampir saja aku yang terjerumus
tapi tunggulah
bukan menyombongkan pesonaku
aku dan pembalasanku yang menyeringai
seperti buas singa yang merasakan buah hatinya tersakiti
karena kau telah berani mempermainkan kata-kataku
yang sudah kau pertanyakan dimalam-malam lalu
seolah aku yang mempertanyakanmu

takkan ada yang mampu menutupi lubang yang telah kugali
kecuali cinta yang fitrah dari Allah
yang tanpa-Nya aku jahil
dan astagfirullah
kulantunkan maaf pada-Nya
karena menimbun lubang ini dengan dendam

tapi tunggulah
yang telah membuatku merasa menjadi matahari
yang membuatku merasa "superhuman"
akan datang malam-malammu
kerinduan mendalam menyiksa
yang entah kau merasa melangit
yang karena diriku yang kau rasa meng-asa

aku kan menunggu jengahmu.

balon biruku yang meletus sudah.,maaf.,

(Postingan lama: 18 Juli 2009, 18.50)

seperti balon
melayang bebas tak tentu arah.
rasa ini hidup dalam angan-angan.
melanglang buana tak terpegang

seperti balon.
elastis.
terbuat dari karet yang mampu tertarik ulur sesuka hati.
rasa ini tak karuan.
suka sekali.
marah sekali.
benci sekali
sayang sekali.
kesana kemari berlari merdeka berakibat.

seperti balon.
mengembang penuh mengisi kekosongan.
rasa yang bisa saja kempis atau meledak karena tak mampu membendung.

seperti balon
terpantul tak beraturan.
rasa terkendali.
terlepas liar.

seperti balon.
butuh hembusan tuk keelokan.
hembusan asa yang ingin berbalas.
tidak dengan tuba.

seperti balon.
jangan ada suara.
suara spontan mengerjapkan jantung.
itu melelehkan bersembab.,

pegang aku untuk kau simpan sendiri.

Jumat, 08 Maret 2013

new

akhirnya nge-blog lagi
setelah lama vakum dari aktivitas update entri, saya memutuskan untuk melanjutkan menulis di blog.
setelah mengecek blog-blog lama ternyata banyak tulisan lebay. SUPERB ME!!!

show must go on