Kamis, 14 November 2013

I DO NOT KNOW YOU


We were in the coffee shop on last friday afternoon
You were reading Emily Dickinson
Still I remember the title “ Unto Me? I do not know you”
I was stared down at you, confuse thou.

The next moment after my pouring coffee,
I was spinning around to the bumble bee
Through the hollow window beside me
I stabbed my eyes with your silence in the reflection of the pane

Your sudden glance bounced me a while
Then I took off my glasses to blur my fragile
Well, I am jealous to the book that u keep staring at
Why Emily keeps pouring slop while I love coffee with chat?

What kind of intention? Why we stay in this melting avalanche?
I am feeling outcast, rust and u still a reader
I want spinning a yarn while u stumble at a word of fade
U come with callous while I run as a decoy preacher

We were sitting together but with delusive love
Its like vis a vis without crave and desire
You present me a drama of silence
And I blow a gust of poems in rubble

Kamis, 25 Juli 2013

Selamat Ulang Tahun #2



Tahukah kamu
Semakin detil hal yang kuperhatikan dari dirimu
Adalah bukti bahwa semakin besar rasa sayangku?
Misalnya saat aku bawel  ingin menggunting kukumu yang kotor
Aku selalu jeli mengagumi jari-jarimu diatas tuts piano


Tahukah kamu
Setiap kau bertanya tentang apa saja
semakin aku belajar memahamimu?
entah gemas dan marah hampir tak memiliki batas jelas
mungkin aku sedikit kesal dengan pertanyaanmu yang berulang-ulang 
mungkin juga aku gemas 
setiap kau bertanya tentang apakah aku merindukanmu


Tahukah kamu
Semakin kau terlambat menjemputku saat kita akan berkencan
Semakin terasa betapa aku merindukanmu?
Kadang aku sampai tertidur menunggumu
Tapi aku hanya tersenyum saat mendengarmu mengetuk pintuku
Karena marah pun takkan menghapus rinduku
Mungkin aku selalu luluh
Saat setiap hari kau menyuruhku menunggumu
Untuk kau nikahi
Kau masih sekolah, katamu, sedikit lagi.

Tapi aku selalu tahu
Meski kau selalu malu
Saat kau berlari membawakanku bunga dihari wisudaku
Saat kau merengek manja minta perhatian dariku
Atau saat kau membuatkan lagu untukku

Mungkin kita memang tak pernah perlu kata-kata
Cukup hal-hal kecil tapi terasa
Bahkan untuk sekedar kata SELAMAT ULANG TAHUN





selamat ulang tahun #1



 Aku ingat
Seperti setiap pesan semangat untukmu dipagi hari,
Atau saat ku bubuhkan gula pada tehmu yang berwarna senja,
Atau setiap kita saling mengagumi lewat kaca spion motormu

Ulang tahunmu
kata pemanis untuk kata tua keramat yang kejam
takut oleh keriput yang mengkerut
takut oleh tanggung jawab yang masih menanggung tanda tanya
apalagi kau calon kepala keluarga

selamat
aku ucapkan lamat-lamat
maaf bukan dengan biskuit selamat
seperti yang biasa kuhadiahkan untuk teman semasa kecil
tapi  untukmu kuhadiahkan kata spesial

Doaku,
semoga ini kata selamat ulang tahun terakhir 
yang tidak kubisikkan langsung ditelingamu diatas ranjang

Jumat, 19 April 2013

kau dan tulisanmu


Kau terlalu banyak mengulang kata-kata, Sayang.
Mungkin kalau aku harus menanggapi tulisanmu sayang, aku ingin mempertegas bahwa sebenarnya permasalah bagus atau tidak itu sangatlah subjektif. Terserah anda mau bilang seni yang diciptakan sesorang itu jelek, tapi kalau menurutku beberapa lagu yang kau ciptakan itu bagus, Sayang. (tidak semuanya bagus). Hehe. Bahkan menurut Emile Zola sendiri bahwa seni itu tidak bermoral (WOW!). seperti misalnya seseorang mengekspresikan kegiatan seksualnya dalam sebuah puisi atau lagu dan bahkan melukis perempuan telanjang. Kalau sudah tidak bermoral tentu anggapan kita itu jelek kan?!

Manusia sering berpikir dualitas, seperti baik-buruk, manis-pahit, terang-gelap. Padahal sebenarnya itu hanya kemampuan manusia yang terbatas maka mereka menciptakan perumpaan seperti itu. Semua itu hanya terjadi saja di alam ini. Relatif. Semua serba subjektif dalam menilai. Kita semua punya pandangan dunia  yang berbeda sebagai tolak ukur untuk mempersepsikan sesuatu. 

Maka dengan beberapa strategi, kau harus mampu menanamkan perspektifmu kepada orang lain secara menghegemoni agar mereka terstigma untuk menyukai karyamu sendiri. Belajarlah memahami publik yang selalu haus akan kepopuleran, belajarlah memahami masyarakat yang sangat konsumtif, belajarlah memahami KONSUMEN yang kau ancang-ancang untuk memasarkan karyamu. Agar kau tahu bagaimana menyuntikkan pemahamanmu dalam karya senimu. Sebagai konsekuensi logisnya mereka pun tentu akan menyukai diri dan ciptaanmu, bila kau memang serius ingin terkenal akan karyamu. :p Selamat berkarya, Sayang. :)

Selasa, 19 Maret 2013

rindu



Sulit membahasakan rindu yang tak berbilang.. meski kau kini tak tergenggam..